Design a site like this with WordPress.com
Get started

cara masuk surga 74 ( In Syaa Allah )

TIPS BERSABAR (2) :

SABAR KETIKA DISAKITI ORANG LAIN

Kategori: tazkiyatun nufus

Terdapat beberapa faktor yang dapat membantu seorang hamba untuk dapat melaksanakan KESABARAN jenis kedua (yaitu BERSABAR ketika DISAKITI orang lain, ed). [Di antaranya adalah sebagai berikut:]

PERTAMA, hendaknya dia mengakui bahwa Allah ta’ala adalah Zat yang MENCIPTAKAN Segala PERBUATAN hamba, Baik itu GERAKAN, DIAM dan KEINGINANNYA. Maka Segala Sesuatu yang DIKEHENDAKI Allah untuk TERJADI, PASTI akan terjadi. Dan segala sesuatu yang TIDAK DIKEHENDAKI Allah untuk TERJADI, maka PASTI TIDAK AKAN terjadi. Sehingga, Tidak Ada SATUPUN benda meski seberat DZARRAH (Semut Kecil, ed) yang BERGERAK di alam ini MELAINKAN dengan IZIN dan KEHENDAK Allah. Oleh karenanya, HAMBA adalah ‘ALAT. Lihatlah kepada ZAT yang menjadikan pihak lain menzalimimu dan janganlah anda melihat Tindakannya terhadapmu. (Apabila anda melakukan hal itu), maka anda akan terbebas dari segala KEDONGKOLAN dan KEGELISAHAN.

KEDUA, hendaknya seorang MENGAKUI akan SEGALA DOSA yang telah DIPERBUATNYA dan MENGAKUI bahwasanya tatkala Allah Menjadikan PIHAK LAIN Menzalimi (dirinya), maka itu semua dikarenakan DOSA-DOSA yang telah dia PERBUAT sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja MUSIBAH yang menimpa kamu, maka itu adalah disebabkan oleh PERBUATAN TANGANMU SENDIRI, dan Allah MEMAAFKAN sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuura: 30).

Apabila seorang hamba MENGAKUI bahwa SEGALA MUSIBAH yang menimpanya DIKARENAKAN DOSA-DOSANYA yang telah lalu, maka DIRINYA akan SIBUK untuk BERTAUBAT dan MEMOHON ampun kepada Allah atas DOSA-DOSANYA yang menjadi SEBAB Allah MENURUNKAN Musibah tersebut. Dia justru SIBUK melakukan hal itu dan Tidak Menyibukkan Diri MENCELA dan MENGOLOK-OLOK berbagai pihak yang TELAH menzaliminya.

(Oleh karena itu), apabila anda melihat seorang yang MENCELA manusia Yang Telah MENYAKITINYA dan justru Tidak Mengoreksi Diri dengan MENCELA Dirinya Sendiri dan BERISTIGHFAR kepada Allah, maka ketahuilah (pada kondisi demikian) musibah yang dia alami justru adalah MUSIBAH Yang Hakiki. (SEBALIKNYA) apabila dirinya BERTAUBAT, BERISTIGHFAR dan mengucapkan,Musibah ini dikarenakan DOSA-DOSAKU yang telah saya perbuat.” Maka (pada kondisi demikian, musibah yang dirasakannya) justru berubah menjadi KENIKMATAN.

Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu pernah mengatakan SEBUAH kalimat yang INDAH,

لاَ يَرْجُوَنَّ عَبْدٌ إِلاَّ رَبَّهُ لاَ يَخَافَنَّ عَبْدٌ إلَّا ذَنْبَهُ

“Hendaknya seorang hamba HANYA BERHARAP kepada Rabb-nya dan hendaknya dia TAKUT terhadap AKIBAT yang akan diterima dari DOSA-DOSA yang telah diperbuatnya.”[1]

Dan terdapat sebuah ATSAR yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib dan selainnya, beliau mengatakan,

مَا نَزَلَ بَلَاءٌ إلَّا بِذَنْبِ وَلَا رُفِعَ إلَّا بِتَوْبَةِ

“Musibah TURUN disebabkan DOSA dan DIANGKAT dengan Sebab TAUBAT.”

KETIGA, hendaknya seorang Mengetahui PAHALA yang disediakan oleh Allah ta’ala bagi orang yang MEMAAFKAN dan BERSABAR (terhadap Tindakan ORANG LAIN yang Menyakitinya). Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya,

وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan BALASAN suatu KEJAHATAN adalah KEJAHATAN yang SERUPA, maka barang siapa MEMAAFKAN dan BERBUAT BAIK, maka PAHALANYA atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai Orang-Orang Yang Zalim.” (QS. Asy Syuura: 40).

Ditinjau dari segi penunaian balasan, manusia terbagi ke dalam TIGA GOLONGAN, yaitu [1] GOLONGAN yang ZALIM karena melakukan PEMBALASAN yang MELAMPAUI BATAS, [2] GOLONGAN yang MODERAT yang Hanya MEMBALAS sesuai HAKNYA dan [3] Golongan Yang MUHSIN (Berbuat Baik) karena MEMAAFKAN pihak yang MENZALIMI dan justru Meninggalkan HAKNYA untuk MEMBALAS. Allah ta’ala menyebutkan KETIGA GOLONGAN INI dalam ayat di atas, bagian pertama bagi mereka yang moderat, bagian kedua diperuntukkan bagi mereka yang berbuat baik dan bagian akhir diperuntukkan bagi mereka yang telah berbuat zalim dalam melakukan pembalasan (yang melampaui batas).

(Hendaknya dia juga) mengetahui Panggilan Malaikat di hari kiamat kelak yang akan berkata,

أَلاَ لِيَقُمْ مَنْ وَجَبَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

“Perhatikanlah! Hendaknya BERDIRI orang-orang yang memperoleh BALASAN yang WAJIB ditunaikan oleh Allah!”[2]

(Ketika panggilan ini selesai dikumandangkan), tidak ada orang yang berdiri melainkan mereka yang (sewaktu di dunia termasuk golongan) yang (SENANTIASA) MEMAAFKAN dan BERSABAR (terhadap GANGGUAN Orang Lain kepada DIRINYA).

Apabila hal ini diiringi  dengan PENGETAHUAN bahwa segala pahala tersebut akan HILANG jika dirinya MENUNTUT dan melakukan BALAS DENDAM, maka tentulah dia akan mudah untuk bersabar dan memaafkan (setiap pihak yang telah menzaliminya).

KEEMPAT, hendaknya dia mengetahui bahwa apabila dia MEMAAFKAN dan BERBUAT BAIK, maka hal itu akan menyebabkan Hatinya SELAMAT dari (berbagai KEDENGKIAN dan KEBENCIAN kepada SAUDARANYA) serta HATINYA akan TERBEBAS dari keinginan untuk melakukan BALAS DENDAM dan BERBUAT JAHAT (kepada pihak yang menzaliminya). (Sehingga) dia memperoleh KENIKMATAN MEMAAFKAN yang justru akan menambah KELEZATAN dan MANFAAT yang Berlipat-Lipat, baik manfaat itu dirasakan Sekarang atau Nanti.

Manfaat di atas tentu tidak sebanding dengan “kenikmatan dan manfaat” yang dirasakannya ketika melakukan pembalasan. Oleh karenanya, (dengan perbuatan di atas), dia (dapat) tercakup dalam firman Allah ta’ala,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Allah menyukai orang-orang yang BERBUAT KEBAJIKAN.” (QS. Ali Imran: 134).

(Dengan melaksanakan perbuatan di atas), dirinya pun menjadi pribadi yang dicintai Allah. Kondisi yang dialaminya layaknya seorang yang Kecurian SATU DINAR, namun dia malah menerima ganti puluhan ribu dinar. (Dengan demikian), dia akan merasa sangat gembira atas karunia Allah yang diberikan kepadanya melebihi Kegembiraan yang pernah Dirasakannya.

KELIMA, hendaknya dia mengetahui bahwa seorang yang Melampiaskan DENDAM semata-mata untuk Kepentingan NAFSUNYA, maka hal itu hanya akan Mewariskan KEHINAAN di dalam dirinya. Apabila dia MEMAAFKAN, maka Allah justru akan memberikan KEMULIAAN kepadanya. Keutamaan ini telah diberitakan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sabdanya,

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا

KEMULIAAN hanya akan ditambahkan oleh Allah kepada Seorang HAMBA yang bersikap PEMAAF.”[3]

(Berdasarkan hadits di atas) kemuliaan yang diperoleh dari sikap MEMAAFKAN itu (tentu) Lebih DISUKAI dan Lebih BERMANFAAT bagi dirinya daripada KEMULIAAN yang diperoleh dari Tindakan pelampiasan DENDAM. Kemuliaan yang diperoleh dari pelampiasan DENDAM adalah Kemuliaan LAHIRIAH semata, namun Mewariskan KEHINAAN Batin. (Sedangkan) sikap MEMAAFKAN (terkadang) merupakan KEHINAAN di dalam BATIN, namun Mewariskan Kemuliaan LAHIR dan BATIN.

KEENAM, -dan hal ini merupakan salah satu faktor yang PALING BERMANFAAT-, yaitu hendaknya dia mengetahui bahwa SETIAP BALASAN itu sesuai dengan amalan yang dikerjakan. (Hendaknya dia menyadari) bahwa DIRINYA adalah seorang yang ZALIM lagi PENDOSA. Begitupula hendaknya dia mengetahui bahwa setiap orang yang MEMAAFKAN kesalahan manusia terhadap dirinya, maka Allah pun akan MEMAAFKAN dosa-dosanya. Dan orang yang Memohonkan AMPUN setiap manusia yang berbuat salah kepada dirinya, maka Allah pun akan MENGAMPUNINYA. Apabila dia mengetahui PEMAAFAN dan PERBUATAN BAIK yang dilakukannya kepada berbagai pihak yang menzalimi merupakan sebab yang akan mendatangkan pahala bagi dirinya, maka tentulah (dia akan mudah) MEMAAFKAN dan BERBUAT KEBAJIKAN dalam rangka (MENEBUS) dosa-dosanya. Manfaat ini tentu sangat mencukupi seorang yang berakal (agar tidak melampiaskan dendamnya).

KETUJUH, hendaknya dia mengetahui bahwa apabila dirinya DISIBUKKAN dengan urusan pelampiasan DENDAM, maka waktunya akan TERBUANG SIA-SIA dan HATINYA pun akan TERPECAH (tidak dapat berkonsentrasi untuk urusan yang lain-pent). Berbagai MANFAAT justru akan LUPUT dari genggamannya. Dan kemungkinan hal ini lebih BERBAHAYA daripada MUSIBAH yang ditimbulkan oleh berbagai pihak yang menzhaliminya. Apabila dia MEMAAFKAN, maka hati dan fisiknya akan merasa “fresh” untuk mencapai berbagai manfaat yang tentu lebih penting bagi dirinya daripada sekedar mengurusi perkara pelampiasan DENDAM.

KEDELAPAN, sesungguhnya pelampiasan DENDAM yang dilakukannya merupakan bentuk PEMBELAAN DIRI yang dilandasi oleh keinginan melampiaskan HAWA NAFSU.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan PEMBALASAN yang didasari keinginan PRIBADI, padahal menyakiti beliau termasuk tindakan menyakiti Allah ta’ala dan menyakiti beliau termasuk di antara perkara yang di dalamnya berlaku ketentuan ganti rugi.

Jiwa beliau adalah jiwa yang TERMULIA, TERSUCI dan TERBAIK. Jiwa yang paling jauh dari berbagai AKHLAK yang TERCELA dan paling BERHAK terhadap berbagai akhlak yang TERPUJI. Meskipun demikian, beliau tidak pernah melakukan PEMBALASAN yang didasari keinginan PRIBADI (jiwanya) (terhadap berbagai pihak yang telah MENYAKITINYA).

Maka bagaimana bisa SALAH SEORANG diantara KITA melakukan PEMBALASAN dan PEMBELAAN untuk DIRI SENDIRI, padahal dia TAHU kondisi JIWANYA SENDIRI serta KEJELEKAN dan AIB yang terdapat di dalamnya? Bahkan, seorang yang ARIF tentu (menyadari bahwa) jiwanya tidaklah pantas untuk MENUNTUT BALAS (karena AIB dan KEJELEKAN yang dimilikinya) dan (dia juga mengetahui bahwa jiwanya) tidaklah memiliki kadar KEDUDUKAN yang berarti sehingga PATUT untuk DIBELA.

Kesembilan, apabila seorang disakiti atas tindakan yang dia peruntukkan kepada Allah (ibadah-pent), atau dia disakiti karena melakukan KETAATAN yang diperintahkan atau karena dia MENINGGALKAN KEMAKSIATAN yang terlarang, maka (pada kondisi demikian), dia WAJIB BERSABAR dan tidak boleh melakukan PEMBALASAN. Hal ini dikarenakan dirinya telah disakiti (ketika melakukan ketaatan) di jalan Allah, sehingga BALASANNYA menjadi TANGGUNGAN Allah.

Oleh karenanya, ketika PARA MUJAHID yang BERJIHAD di jalan Allah KEHILANGAN NYAWA dan HARTA, mereka tidak memperoleh ganti rugi karena Allah telah MEMBELI NYAWA dan HARTA mereka.

Dengan demikian, GANTI RUGI menjadi TANGGUNGAN Allah, bukan DI TANGAN MAKHLUK. Barangsiapa yang menuntut GANTI RUGI kepada MAKHLUK (yang telah menyakitinya), tentu dia TIDAK LAGI memperoleh GANTI RUGI dari Allah. Sesungguhnya, seorang yang mengalami kerugian (karena disakiti) ketika beribadah di jalan Allah, maka Allah BERKEWAJIBAN memberikan gantinya.

Apabila dia tersakiti akibat musibah yang menimpanya, maka hendaknya dia MENYIBUKKAN DIRI dengan MENCELA dirinya sendiri. Karena dengan demikian, dirinya TERSIBUKKAN (untuk mengoreksi diri dan itu lebih baik daripada) dia MENCELA berbagai pihak yang telah menyakitinya.

Apabila dia tersakiti karena HARTA, maka hendaknya dia berusaha menyabarkan jiwanya, karena mendapatkan harta tanpa DIBARENGI dengan KESABARAN merupakan perkara yang lebih pahit daripada kesabaran itu sendiri.

Setiap orang yang tidak mampu bersabar terhadap panas terik di siang hari, terpaan hujan dan salju serta rintangan perjalanan dan gangguan perampok, maka tentu dia TIDAK USAH Berdagang.

Realita ini diketahui oleh manusia, bahwa setiap orang yang memang JUJUR (dan bersungguh-sungguh) dalam Mencari SESUATU, maka dia akan dianugerahi KESABARAN dalam mencari Sesuatu Itu sekadar KEJUJURAN (dan KESUNGGUHAN) yang dimilikinya.

KESEPULUH, hendaknya dia mengetahui KEBERSAMAAN, KECINTAAN Allah dan ridha-Nya kepada dirinya apabila dia BERSABAR. Apabila Allah membersamai seorang, maka segala bentuk GANGGUAN dan BAHAYA -yang tidak satupun makhluk yang mampu menolaknya- akan tertolak darinya. Allah ta’ala berfirman,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Allah menyukai orang-orang yang BERSABAR.” (QS. Ali ‘Imran: 146).

KESEBELAS, hendaknya dia mengetahui bahwa KESABARAN merupakan sebagian daripada IMAN. Oleh karena itu, sebaiknya dia tidak mengganti sebagian IMAN tersebut dengan Pelampiasan DENDAM. Apabila dia BERSABAR, maka dia telah memelihara dan menjaga KEIMANANNYA dari aib (kekurangan). Dan Allah-lah yang akan MEMBELA orang-orang yang BERIMAN.

KEDUA BELAS, hendaknya dia mengetahui bahwa KESABARAN yang dia laksanakan merupakan hukuman dan pengekangan terhadap HAWA NAFSUNYA. Maka tatkala hawa nafsu TERKALAHKAN, tentu Nafsu tidak mampu MEMPERBUDAK dan MENAWAN dirinya serta menjerumuskan dirinya ke dalam berbagai KEBINASAAN.

Tatkala dirinya tunduk dan mendengar HAWA NAFSU serta terkalahkan olehnya, maka HAWA NAFSU akan senantiasa mengiringinya hingga NAFSU tersebut MEMBINASAKANNYA kecuali dia memperoleh RAHMAT dari Rabb-nya.

Kesabaran mengandung pengekangan terhadap hawa nafsu berikut setan yang (menyusup masuk di dalam diri). Oleh karenanya, (ketika kesabaran dijalankan), maka kerajaan hati akan menang dan bala tentaranya akan kokoh dan menguat sehingga segenap MUSUH akan TERUSIR.

KETIGA BELAS, hendaknya dia mengetahui bahwa tatkala dia BERSABAR , maka tentu Allah-lah yang menjadi PENOLONGNYA. Maka Allah adalah penolong bagi setiap orang yang bersabar dan memasrahkan setiap pihak yang menzaliminya kepada Allah.

Barangsiapa yang MEMBELA HAWA NAFSUNYA (dengan melakukan pembalasan), maka Allah akan MENYERAHKAN DIRINYA kepada hawa nafsunya sendiri sehingga dia pun menjadi PENOLONGNYA.

Jika demikian, apakah akan sama kondisi antara seorang yang DITOLONG Allah, Sebaik-Baik PENOLONG dengan seorang yang DITOLONG oleh HAWA NAFSUNYA yang merupakan PENOLONG yang PALING LEMAH?

KEEMPAT BELAS, KESABARAN yang dilakukan oleh seorang akan melahirkan Penghentian KEZHALIMAN dan PENYESALAN pada DIRI MUSUH serta akan menimbulkan CELAAN manusia kepada PIHAK YANG MENZALIMI. Dengan demikian, setelah menyakiti dirinya, pihak yang zhalim akan kembali dalam KEADAAN MALU terhadap PIHAK yang telah DIZALIMINYA. Demikian pula dia akan MENYESALI perbuatannya, bahkan bisa jadi pihak yang zalim akan berubah menjadi SAHABAT KARIB bagi pihak yang DIZHALIMI. Inilah makna firman Allah ta’ala,

ô ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushshilaat: 34-35).

KELIMA BELAS, terkadang pembalasan DENDAM malah menjadi sebab yang akan menambah KEJAHATAN sang MUSUH terhadap dirinya. Hal ini juga justru akan memperkuat dorongan HAWA NAFSU serta MENYIBUKKAN pikiran untuk memikirkan berbagai bentuk pembalasan yang akan dilancarkan sebagaimana hal ini sering terjadi.

Apabila dirinya BERSABAR dan MEMAAFKAN pihak yang menzhaliminya, maka dia akan terhindar dari berbagai bentuk keburukan di atas. Seorang yang berakal, tentu tidak akan memilih perkara yang lebih BERBAHAYA.

Betapa banyak pembalasan dendam justru menimbulkan berbagai keburukan yang sulit untuk dibendung oleh pelakunya. Dan betapa banyak jiwa, harta dan kemuliaan yang tetap langgeng ketika pihak yang dizalimi menempuh jalan memaafkan.

KEENAM BELAS, sesungguhnya seorang yang terbiasa MEMBALAS DENDAM dan TIDAK BERSABAR mesti akan terjerumus ke dalam kezaliman. Karena hawa nafsu tidak akan mampu melakukan PEMBALASAN DENDAM dengan ADIL, baik ditinjau dari segi pengetahuan (maksudnya hawa nafsu tidak memiliki parameter yang pasti yang akan menunjukkan kepada dirinya bahwa pembalasan dendam yang dilakukannya telah sesuai dengan kezaliman yang menimpanya, pent-) dan kehendak (maksudnya ditinjau dari segi kehendak, hawa nafsu tentu akan melakukan pembalasan yang lebih, pent-).

Terkadang, hawa nafsu tidak mampu membatasi diri dalam melakukan pembalasan dendam sesuai dengan kadar yang dibenarkan, karena KEMARAHAN (ketika melakukan pembalasan dendam)  akan berjalan bersama pemiliknya menuju batas yang tidak dapat ditentukan (melampaui batas, pent-). Sehingga dengan demikian, posisi dirinya yang semula menjadi pihak yang dizalimi, yang menunggu pertolongan dan kemuliaan, justru berubah menjadi pihak yang zalim, yang akan menerima kehancuran dan siksaan.

KETUJUH BELAS, kezaliman yang diderita akan menjadi sebab yang akan MENGHAPUSKAN berbagai dosa atau mengangkat derajatnya. Oleh karena itu, apabila dia membalas dendam dan tidak bersabar, maka kezaliman tersebut TIDAK akan MENGHAPUSKAN dosa dan tidakpula mengangkat derajatnya.

KEDELAPAN BELAS, kesabaran dan pemaafan yang dilakukannya merupakan pasukan terkuat yang akan membantunya dalam menghadapi sang musuh.

Sesungguhnya setiap orang yang BERSABAR dan MEMAAFKAN pihak yang telah menzaliminya, maka sikapnya tersebut akan melahirkan kehinaan pada diri sang musuh dan menimbulkan ketakutan terhadap dirinya dan manusia. Hal ini dikarenakan manusia tidak akan tinggal diam terhadap kezaliman yang dilakukannya tersebut, meskipun pihak yang dizalimi mendiamkannya. Apabila pihak yang dizalimi membalas dendam, seluruh KEUTAMAAN itu akan terluput darinya.

Oleh karena itu, anda dapat menjumpai sebagian manusia, apabila dia menghina atau menyakiti pihak lain, dia akan menuntut PENGHALALAN dari pihak yang telah dizaliminya. Apabila pihak yang dizalimi mengabulkannya, maka dirinya akan MERASA lega dan beban yang dahulu dirasakan akan hilang.

KESEMBILAN BELAS, apabila pihak yang dizalimi MEMAAFKAN sang musuh, maka hati sang musuh akan tersadar bahwa KEDUDUKAN Pihak yang dizalimi berada di atasnya dan dirinya telah menuai keuntungan dari kezaliman yang telah dilakukannya. Dengan demikian, sang musuh akan senantiasa memandang bahwa kedudukan dirinya berada DI BAWAH KEDUDUKAN pihak yang telah dizaliminya. Maka tentu hal ini cukup menjadi KEUTAMAAN dan kemuliaan dari sikap MEMAAFKAN.

KEDUA PULUH, apabila seorang MEMAAFKAN, maka sikapnya tersebut merupakan suatu kebaikan yang akan melahirkan berbagai kebaikan yang lain, sehingga kebaikannya akan senantiasa BERTAMBAH.

Sesungguhnya balasan bagi setiap kebaikan adalah KONTINUITAS KEBAIKAN (kebaikan yang berlanjut), sebagaimana balasan bagi setiap keburukan adalah KONTINUITAS KEBURUKAN (keburukan yang terus berlanjut). Dan terkadang hal ini menjadi sebab KESELAMATAN dan KESUKSESAN ABADI. Apabila dirinya melakukan PEMBALASAN DENDAM, seluruh hal itu justru akan terluput darinya.

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات[4]

Diterjemahkan dari risalah Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah merahmati beliau-

Penerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel www.muslim.or.id


[1] Lihat penjelasan perkataan beliau ini dalam Majmu’ al Fatawa (8/161-180).

[2] HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih serta selain mereka berdua dari sahabat Ibnu’ Abbas dan Anas. Lihat ad Durr al Mantsur (7/359).

[3] HR. Muslim (2588) dari sahabat Abu Hurairah.

[4] Selesai diterjemahkan dengan bebas dari risalah Al Qo’idatu fish Shobr, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, pada hari Senin, tanggal 27 Rabi’ul Awwal 1430 H, Griya Cempaka Arum K4/7, Bandung.
Dari artikel Tips Bersabar (2): Sabar Ketika Disakiti Orang Lain — Muslim.Or.Id by null

Advertisement

cara masuk surga 73 ( in Syaa Allah )

TIPS BERSABAR ( 1 ) :

MACAM – MACAM SABAR

Kategori: Tazkiyatun Nufus

Allah ta’ala telah memberikan KEBAIKAN di setiap KONDISI yang dialami oleh para hamba-Nya yang BERIMAN, sehingga mereka senantiasa berada dalam rengkuhan nikmat Allah ta’ala.

Mereka mengalami segala kejadian yang MENYENANGKAN dan MENYEDIHKAN, namun SEGALA TAKDIR yang ditetapkan Allah BAGI MEREKA merupakan BARANG PERNIAGAAN yang memberikan UNTUNG yang Teramat BESAR.

Hal ini ditunjukkan dalam sebuah sabda yang diucapkan oleh PEMIMPIN dan SURI TAULADAN bagi orang-orang yang BERTAKWA, yaitu nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ عجب. مَا يَقْضِي اللهُ لَهُ مِنْ قَضَاءٍ إِلاَ كَانَ خَيْرًا لَهُ, إِِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh MENAKJUBKAN urusan SEORANG MUKMIN. Segala perkara yang dialaminya Sangat MENAKJUBKAN. Setiap takdir yang ditetapkan Allah bagi dirinya merupakan KEBAIKAN. Apabila KEBAIKAN dialaminya, maka ia BERSYUKUR, dan hal itu merupakan KEBAIKAN baginya. Dan apabila KEBURUKAN menimpanya, dia BERSABAR dan hal itu merupakan KEBAIKAN baginya.”[1]

Hadits ini mencakup SELURUH takdir-Nya yang DITETAPKAN bagi para hamba-Nya yang BERIMAN. Dan Segala Takdir itu akan bernilai KEBAIKAN, apabila sang hamba BERSABAR terhadap TAKDIR Allah yang TIDAK Menyenangkan dan BERSYUKUR atas TAKDIR Allah yang DISUKAINYA.

Bahkan, hal ini turut tercakup ke dalam kategori KEIMANAN sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَى بِآيَاتِنَا أَنْ أَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَذَكِّرْهُمْ بِأَيَّامِ اللَّهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (٥)

“Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang PENYABAR dan Banyak BERSYUKUR.” (QS. Ibrahim: 5).

Apabila seorang hamba memperhatikan SELURUH ajaran AGAMA ini, maka dia akan mengetahui bahwa segenap ajaran agama berpulang pada KEDUA hal tadi, yaitu KESABARAN dan RASA SYUKUR. Hal itu dikarenakan KESABARAN terbagi menjadi TIGA JENIS sebagaimana berikut[2].

PERTAMA: Sabar dalam melakukan KETAATAN sampai seorang Melaksanakannya. Hal ini dikarenakan seorang hamba hampir dapat dipastikan tidak dapat melakukan Segala Perkara yang DIPERINTAHKAN kepadanya kecuali setelah BERSABAR, berusaha keras untuk BERSABAR dan BERJIHAD melawan Segenap MUSUH, baik yang TAMPAK maupun yang TIDAK TAMPAK. KESABARAN jenis inilah yang mempengaruhi penunaian seorang hamba terhadap segala perkara yang DIWAJIBKAN dan DIANJURKAN kepada dirinya.

KEDUA: KESABARAN terhadap segala perkara yang TERLARANG sehingga dirinya TIDAK mengerjakan berbagai LARANGAN tersebut. Sesungguhnya NAFSU, TIPU DAYA SETAN, dan Teman Sejawat yang BURUK akan Senantiasa MEMERINTAHKAN dan MENYERET seseorang untuk BERBUAT KEMAKSIATAN. Oleh karenanya, kekuatan KESABARAN jenis ini mempengaruhi tindakan seorang hamba dalam meninggalkan segenap KEMAKSIATAN. Sebagian ulama salaf[3] mengatakan,

أَعْمَالُ الْبِرِّ يَفْعَلُهَا الْبَرُّ وَ الْفَاجِرُ, وَ لاَ يَقْدِرُ عَلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي إِلاَّ صِدِّيْقٌ

“Setiap orang yang BAIK maupun yang FAJIR (Pelaku KEMAKSIATAN) turut melakukan KEBAIKAN. Namun hanya orang yang BERTITEL SHIDDIQ yang mampu meninggalkan seluruh perkara MAKSIAT.”

KETIGA: KESABARAN terhadap MUSIBAH yang Menimpanya. MUSIBAH ini terbagi Menjadi DUA,

JENIS PERTAMA: Jenis MUSIBAH yang TIDAK dipengaruhi oleh Turut Campur Tangan MAKHLUK seperti Penyakit dan Musibah lain yang Praktis TIDAK turut dipengaruhi oleh campur TANGAN Manusia. Seorang hamba MUDAH BERSABAR dalam menghadapi Musibah JENIS ini.

Hal itu dikarenakan seorang hamba mengakui bahwasanya Musibah JENIS ini termasuk ke dalam TAKDIR Allah yang TIDAK dapat DITENTANG olehnya, (sehingga) manusia TIDAK Mampu turut campur dalam PERMASALAHAN ini. (Dalam hal ini), sang HAMBA hanya mampu BERSABAR, baik itu TERPAKSA maupun SUKARELA.

Apabila Allah membukakan pintu untuk merenungi BERBAGAI FAEDAH, Kenikmatan dan kelembutan Allah yang DIPEROLEHNYA dari musibah tersebut, maka dirinya pun Berpindah dari Derajat BERSABAR atas musibah yang menimpanya menuju derajat BERSYUKUR dan RIDHA atas musibah tersebut. Dengan seketika, MUSIBAH tadi berubah menjadi NIKMAT yang dirasakannya, sehingga LISAN dan HATINYA senantiasa berkata,

رَبِّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Wahai Rabb-ku, TOLONGLAH aku untuk senantiasa mengingat-Mu, BERSYUKUR kepada-Mu serta MEMPERBAIKI Segala Peribadatanku kepada-Mu.”[4]

KESABARAN jenis ini bergantung kepada kekuatan CINTA seorang HAMBA kepada Allah ta’ala, (sehingga meskipun Hamba tertimpa musibah, dia justru dapat BERSABAR karena kekuatan cinta-Nya kepada Allah ta’ala). Hal ini (KESABARAN seorang terhadap PERBUATAN yang TIDAK Menyenangkan dari SEORANG yang dicintainya-pent) dapat disaksikan dalam KEHIDUPAN sehari-hari, sebagaimana perkataan Sebagian Penyair[5] yang memanggil sang KEKASIH yang TELAH Menyakitinya. Dia mengatakan,

لَئِنْ سَاءَنِي أَنْ نِلْتَنِي بِمَسَاءَةٍ

لَقَدْ سَرَّنِي أَنِّي خَطَرْتُ بِبَالِكَ

MESKIPUN (sang kekasih) TELAH Menyakitiku

Namun KENANGAN di Balika (bersama kekasih) yang terlintas di benak, sungguh telah MENYENANGKAN hatiku

JENIS KEDUA,[6] adalah MUSIBAH berupa TINDAKAN manusia yang MENGANGGU harta, KEHORMATAN dan JIWA seorang.

BERSABAR terhadap Musibah JENIS ini sangat SULIT dilakukan, karena JIWA Manusia akan Senantiasa MENGINGAT pihak yang telah MENYAKITINYA. Begitupula Jiwa (CENDERUNG) Enggan DIKALAHKAN sehingga dia Senantiasa berupaya untuk MENUNTUT BALAS. Oleh karenanya, hanya PARA NABI dan orang-orang yang BERTITEL Shiddiq saja yang MAMPU BERSABAR terhadap musibah jenis ini.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila DISAKITI, beliau hanya mengucapkan,

يَرْحَمُ اللَّهُ مُوسَى لَقَدْ أُوذِيَ بِأَكْثَرَ مِنْ هَذَا فَصَبَرَ

“Semoga Allah Merahmati Musa. Sungguh beliau telah Disakiti (oleh kaumnya) dengan (musibah) yang LEBIH daripada (ujian yang saya alami ini), NAMUN beliau dapat BERSABAR.”[7]

Salah sorang Nabi pun (BERSABAR dan HANYA) berkata ketika DIPUKUL oleh Kaumnya,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Ya Allah AMPUNILAH kaumku, karena sungguh mereka TIDAK Mengetahui.”[8]

Telah diriwayatkan dari nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau pernah MENGALAMI ujian yang DIALAMI oleh nabi tadi dan beliau mengucapkan Perkataan yang Serupa.[9]

(Dengan demikian), UCAPAN DO’A tersebut mengumpulkan TIGA PERKARA, yaitu PEMAAFAN (dari pihak yang DISAKITI) terhadap tindakan mereka, PERMINTAAN AMPUN kepada Allah untuk mereka dan PENGAJUAN DISPENSASI (kepada Allah) dikarenakan KETIDAKTAHUAN mereka.

(Apabila seorang melakukannya), maka KESABARAN jenis ini akan menghasilkan PERTOLONGAN, PETUNJUK, KEBAHAGIAAN, KEAMANAN dan KEKUATAN serta MEMPERTEBAL rasa cinta Allah dan manusia terhadap dirinya juga menambah KEILMUAN orang tersebut.

Oleh karena itu, Allah ta’ala berfirman,

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآَيَاتِنَا يُوقِنُونَ

‘Dan Kami jadikan di antara mereka itu Pemimpin-Pemimpin yang memberi petunjuk dengan PERINTAH Kami ketika mereka SABAR. dan adalah mereka MEYAKINI ayat-ayat kami.” (QS. As Sajdah: 24).

Sehingga, KEPEMIMPINAN dalam agama dapat DIPEROLEH dengan KESABARAN dan keyakinan (keimanan)[10]. Apabila kekuatan keyakinan dan keimanan mengiringi kesabaran ini, maka seorang hamba akan menaiki berbagai TINGKATAN KEBAHAGIAAN dengan KARUNIA Alah ta’ala. Dan itulah KARUNIA Allah yang diberikan-Nya kepada SIAPA yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. Oleh karenanya Allah berfirman,

ô ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)

TOLAKLAH (kejahatan itu) DENGAN CARA yang LEBIH BAIK, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada PERMUSUHAN seolah-olah telah menjadi teman yang Sangat Setia. Sifat-sifat yang BAIK itu TIDAK DIANUGERAHKAN melainkan kepada orang-orang yang SABAR dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai KEUNTUNGAN yang BESAR.” (QS. Fushshilaat: 34-35).

-bersambung insya Allah-

Diterjemahkan dari risalah Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah merahmati beliau-

Penerjemah: Muhammad Nur Ichwan Muslim

Artikel www.muslim.or.id


[1] HR. Muslim (2999) dari Shuhaib.

[2] Lihat perkataan penulis dalam Majmu’ al Fatawa (10/574-577, 14/304-306).

[3] Beliau adalah Sahl at Tusturi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam al Hilyah (10/211).

[4] Do’a ini merupakan salah satu do’a yang berasal dari nabi yang diriwayatkan oleh Ahmad (5/244, 247), Abu Dawud (1522) dan An Nasaa-i (3/53) dari sahabat Mu’adz bin Jabal.

[5] Dia adalah Ibnu Ad Daminah. Bait sya’ir di atas merupakan qashidah miliknya yang masyhur. Sebagian qashidah tersebut terdapat dalam Hamasah Abi Tamam (2/62-63) dan redaksi lengkapnya terdapat dalam Diwan beliau (halaman 13-18).

Qashidah di atas terdapat dalam 12 bait sya’ir pada kitab Al Fushush karya Sha’id (1/67-70) dan juga terdapat dalam seluruh kitab rujukan sya’ir pada qafiyah (rima) huruf kaf yang berharakat kasrah.

[6] Demikianlah yang tertera dalam kitab asli. Namun, yang lebih tepat adalah musibah di atas adalah jenis kedua dari dua jenis musibah yang disebutkan oleh penulis.

[7] HR. Bukhari (3150, 3405 dan berbagai tempat lainnya), Muslim (1062) dari sahabat Ibnu Mas’ud.

[8] HR. Bukhari (3477 dan 6929), Muslim (1792) dari sahabat Ibnu Mas’ud.

[9] HR. Ath Thabarani dari Sahl bin Sa’ad sebagaimana terdapat dalam Majma az Zawaa-id (6/117). Al Haitsami mengatakan, “Seluruh rijal hadits ini merupakan rijal kitab Shahih.”

[10] Lihat Majmu’ al Fatawa (10/39).
Dari artikel Tips Bersabar (1): Macam-macam Kesabaran — Muslim.Or.Id by null

cara masuk surga 72 ( In Syaa Allah )

Batas KESABARAN

(Tajuk: Majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun VI)

ORANG bilang, “SABAR ada BATASNYA”, “HABIS kesabaranku”, “SESABAR-SABARNYA orang, Akhirnya tak tahan juga”. Apa atau dimanakah sebenarnya Batas Kesabaran yang DIBENARKAN dalam ISLAM? Apakah Perkataan yang demikian itu DIBENARKAN dalam ISLAM?

Saat Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam MARAH ketika Mendapatkan KEKELIRUAN BESAR yang dilakukan oleh Sebagian SAHABAT, apakah BERARTI beliau telah KEHABISAN kesabarannya? Tentu Saja TIDAK. Begitu pula ketika beliau shallallâhu ‘alaihi wasallam harus BANGKIT melakukan PERLAWANAN terhadap MUSUH atas IZIN dan PERINTAH Allâh Ta’âla. JUSTERU hal itu Merupakan salah satu bentuk PENDIDIKAN KESABARAN yang PALING Berharga.

BERSABAR untuk MARAH, atau MARAH dalam KESABARAN adalah PERKARA yang TIDAK MUDAH. Umumnya orang MARAH karena Memperturutkan HAWA NAFSU. TETAPI, tidak demikian dengan yang dilakukan Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam dan yang beliau perintahkan kepada umatnya. Itulah yang disebut, MARAH KARENA Allâh Ta’âla, BUKAN KARENA Memperturutkan HAWA NAFSU. MARAH yang demikian adalah Beban yang hanya AKAN terlaksana jika dilakukan dengan SABAR. Seorang MUSLIM yang TIDAK lagi MARAH melihat KEMUSYRIKAN, BID’AH dan KEMAKSIATAN Merajalela di muka BUMI, Sedikitnya merupakan orang yang TIDAK Punya KECEMBURUAN terhadap ISLAM. Dan ia TERMASUK Orang yang TIDAK Memiliki KESABARAN untuk MARAH terhadap KEMUNGKARAN tersebut.

SABAR sesungguhnya merupakan Salah Satu ajaran ISLAM yang AGUNG, Namun sangat BERAT. BERSABAR untuk MARAH, BERSABAR menahan Amarah, BERSABAR untuk Selalu ISTIQAMAH menapaki ajaran ISLAM sesuai dengan SUNNAH Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam dan para sahabat, BERSABAR untuk tidak TERGESA-GESA, BERSABAR untuk Tidak MENYIMPANG, BERSABAR untuk MENJAUHI Larangan, maupun BERSABAR menerima MUSIBAH dari Allâh Ta’âla, semuanya merupakan perkara yang BERAT. Itulah sebabnya, orang yang SABAR pasti selalu DISERTAI oleh Allâh Ta’âla.

Dan bersabarlah, Sesungguhnya Allâh Beserta Orang-Orang Yang Sabar.
(QS Al Anfal : 46)
Jika SABAR bergabung dengan TAQWA, maka TIPU DAYA MUSUH, Betapapun PIAWAINYA, Tidak akan MEMBAHAYAKAN.

Jika kamu BERSABAR dan BERTAQWA,
niscaya TIPU DAYA mereka SEDIKITPUN tidak mendatangkan KEMUDHARATAN kepadamu. Sesungguhnya Allâh mengetahui Segala Apa Yang mereka KERJAKAN.
(QS Ali Imran : 120)
SABAR mempunyai kedudukan yang TINGGI dalam ISLAM. Seseorang akan Memperoleh KEDUDUKAN sebagai Pemimpin yang Mulia di sisi Allâh Ta’âla, dan dapat menjadi Panutan umat, manakala ia BERSABAR dan Betul-Betul MEYAKINI ayat-ayat Allâh Ta’âla.

Dan Kami jadikan di antara mereka itu PEMIMPIN-PEMIMPIN
yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka BERSABAR,
dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.
(QS As Sajdah/32 : 24)
Diperlukan PERJUANGAN yang Sungguh-Sungguh hingga seseorang bisa BERSABAR dan Mengalahkan HAWA NAFSUNYA. Yang jelas, SABAR dalam Islam TIDAK ADA BATASNYA.

Wallâhu a’lam

cara masuk surga 71 ( In Syaa Allah )

Indahnya SABAR

Kategori: Tazkiyatun Nufus

Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata, “Hakekat KESABARAN itu adalah teguh di atas AL-KITAB dan AS-SUNNAH.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7]). Ibnu ‘Atha’ rahimahullah berkata,SABAR adalah menyikapi musibah dengan ADAB/CARA yang BAIK.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim[3/7]). Abu Ali ad-Daqqaq rahimahullah berkata, “Hakekat dari SABAR yaitu tidak MEMPROTES sesuatu yang sudah Ditetapkan dalam TAKDIR. Adapun Menampakkan musibah yang menimpa selama bukan untuk BERKELUH-KESAH -kepada MAKHLUK– maka hal itu TIDAK meniadakan KESABARAN.” (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/7])

Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, SABAR secara bahasa artinya adalah MENAHAN diri. Allah ta’ala berfirman kepada nabi-Nya (yang artinya), ‘Sabarkanlah dirimu bersama orang-orang yang berdoa kepada Rabb mereka’. Maksudnya adalah tahanlah dirimu untuk tetap bersama mereka. Adapun di dalam istilah syari’at, SABAR adalah: menahan diri di atas KETAATAN kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan untuk MENINGGALKAN Kedurhakaan/kemaksiatan kepada-Nya. …” (I’anat al-Mustafid bi Syarhi Kitab at-Tauhid [3/134] software Maktabah asy-Syamilah)

Macam-Macam Sabar

al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah berkata, SABAR yang dipuji ada beberapa macam: [1] SABAR di atas ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [2] demikian pula SABAR dalam MENJAUHI Kemaksiatan kepada Allah ‘azza wa jalla, [3] kemudian SABAR dalam MENANGGUNG Takdir yang terasa MENYAKITKAN. SABAR dalam menjalankan KETAATAN dan SABAR dalam MENJAUHI perkara yang DIHARAMKAN itu lebih utama daripada SABAR dalam menghadapi TAKDIR yang terasa menyakitkan…” (Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 279)

al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah memiliki HAK untuk Diibadahi oleh hamba di saat TERTIMPA Musibah, sebagaimana ketika dia mendapatkan KENIKMATAN.” Beliau juga mengatakan,“Maka SABAR adalah KEWAJIBAN yang selalu MELEKAT kepadanya, dia tidak boleh keluar darinya untuk Selama-Lamanya. SABAR merupakan penyebab untuk Meraih segala Kesempurnaan.” (Fath al-Bari [11/344]).

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Adapun SABAR dalam menjalankan KETAATAN kepada Allah dan sabar dalam Menjauhi KEMAKSIATAN kepada-Nya, maka hal itu sudah jelas bagi setiap orang bahwasanya keduanya merupakan bagian dari KEIMANAN. Bahkan, kedua hal itu merupakan POKOK dan CABANGNYA. Karena pada hakekatnya IMAN itu secara KESELURUHAN merupakan KESABARAN untuk MENETAPI apa yang Dicintai Allah dan Diridhai-Nya serta untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya, demikian pula harus SABAR dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah. Dan juga karena sesungguhnya agama ini Berporos pada TIGA pokok utama: [1] MEMBENARKAN berita dari Allah dan rasul-Nya, [2] MENJALANKAN Perintah Allah dan rasul-Nya, dan [3] MENJAUHI larangan-larangan keduanya…” (al-Qaul as-Sadid fi Maqashid at-Tauhid, hal. 105-106)

SABAR merupakan AKHLAK para Rasul

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh telah DIDUSTAKAN rasul-rasul sebelummu maka mereka pun BERSABAR menghadapi tindakan pendustaan tersebut, dan mereka pun DISAKITI sampai datanglah kepada mereka PERTOLONGAN Kami.” (QS. al-An’am: 34)

Sabar membuahkan KEBAHAGIAAN hidup

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasehati dalam KEBENARAN dan saling menasihati untuk menetapi KESABARAN.” (QS. al-’Ashr: 1-3)

Umar bin Khatthab radhiyallahu’anhu mengatakan, “Kami berhasil memperoleh penghidupan terbaik kami dengan jalan kesabaran.” (HR. Bukhari secara mu’allaq dengan nada tegas, dimaushulkan oleh Ahmad dalam az-Zuhd dengan sanad sahih, lihat Fath al-Bari [11/342] cet. Dar al-Hadits tahun 1424 H)

Sabar penopang keimanan

Dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh Menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah BAIK untuknya. Dan hal itu TIDAK ADA kecuali pada diri Seorang MUKMIN. Apabila dia mendapatkan KESENANGAN maka dia pun BERSYUKUR, maka hal itu adalah KEBAIKAN untuknya. Apabila dia tertimpa KESULITAN maka dia pun BERSABAR, maka hal itu juga sebuah KEBAIKAN untuknya.” (HR. Muslim [2999] lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim[9/241])

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan, SABAR adalah Separuh KEIMANAN.” (HR. Abu Nu’aim dalamal-Hilyah dan al-Baihaqi dalam az-Zuhd, lihat Fath al-Bari [1/62] dan [11/342]). Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu mengatakan, SABAR bagi keimanan Laksana KEPALA dalam tubuh. Apabila KESABARAN telah LENYAP maka LENYAP pulalah KEIMANAN.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannafnya [31079] dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman [40], bagian awal atsar ini dilemahkan oleh al-Albani dalam Dha’if al-Jami’ [3535], lihat Shahih wa Dha’if al-Jami’ as-Shaghir [17/121] software Maktabah asy-Syamilah).

SABAR penepis FITNAH

Dari Abu Malik al-Asy’ari radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “…Dan SABAR itu adalah cahaya -yang panas-…” (HR. Muslim [223], lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim [3/6] cet. Dar Ibn al-Haitsam tahun 2003). Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “… Fitnah SYUBHAT bisa ditepis dengan KEYAKINAN, sedangkan Fitnah SYAHWAT dapat ditepis dengan BERSABAR. Oleh karena itulah Allah Yang Maha Suci menjadikan KEPEMIMPINAN dalam agama tergantung pada KEDUA perkara ini. Allah berfirman (yang artinya), “Dan Kami menjadikan di antara mereka para pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka Bisa BERSABAR dan senantiasa MEYAKINI ayat-ayat Kami.” (QS. as-Sajdah: 24). Hal ini menunjukkan bahwasanya dengan Bekal SABAR dan KEYAKINAN itulah akan bisa dicapai KEPEMIMPINAN dalam hal AGAMA. Allah juga memadukan Keduanya di dalam firman-Nya (yang artinya), “Mereka saling MENASEHATI dalam Kebenaran dan saling MENASEHATI untuk menetapi KESABARAN.” (QS. al-’Ashr: 3). Saling menasehati dalam kebenaran merupakan sebab untuk mengatasi FITNAH SYUBHAT, sedangkan saling menasehati untuk menetapi kesabaran adalah sebab untuk mengekang FITNAH SYAHWAT…” (dikutip dariadh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir yang disusun oleh Syaikh Ali ash-Shalihi [5/134], lihat juga Ighatsat al-Lahfan hal. 669)

Sabar membuahkan HIDAYAH bagi hati

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan IZIN Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan PETUNJUK ke dalam hatinya.” (QS. at-Taghabun: 11)

Ibnu Katsir menukil keterangan al-A’masy dari Abu Dhabyan. Abu Dhabyan berkata, “Dahulu kami duduk-duduk bersama Alqomah, ketika dia membaca ayat ini ‘barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan menunjuki hatinya’ dan beliau ditanya tentang maknanya. Maka beliau menjawab, ‘Orang -yang dimaksud dalam ayat ini- adalah seseorang yang tertimpa musibah dan mengetahui bahwasanya musibah itu berasal dari sisi Allah maka dia pun merasa RIDHA dan PASRAH kepada-Nya.” Atsar ini diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim di dalam tafsir mereka. Sa’id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan ketika menafsirkan ayat itu, “Yaitu -Allah akan MENUNJUKI Hatinya– Sehingga MAMPU Mengucapkan ISTIRJA’ yaitu Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (Tafsir al-Qur’an al-’Azhim [4/391] cet. Dar al-Fikr)

Hikmah dibalik MUSIBAH

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila Allah menghendaki hamba-Nya mendapatkan KEBAIKAN maka Allah SEGERAKAN baginya HUKUMAN di dunia. Dan apabila Allah menghendaki KEBURUKAN Untuknya maka Allah akan MENAHAN hukumannya SAMPAI akan DISEMPURNAKAN balasannya kelak DI HARI KIAMAT.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan gharib, lihat as-Shahihah [1220])

Di dalam hadits yang agung ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan bahwa ada kalanya Allah ta’ala memberikan MUSIBAH kepada hamba-Nya yang beriman dalam rangka MEMBERSIHKAN Dirinya dari KOTORAN-KOTORAN DOSA yang pernah dilakukannya SELAMA hidup. Hal itu SUPAYA nantinya ketika dia berjumpa dengan Allah di akherat maka BEBAN yang dibawanya SEMAKIN Bertambah RINGAN. Demikian pula terkadang Allah memberikan MUSIBAH kepada sebagian orang AKAN TETAPI Bukan karena RASA CINTA dan PEMULIAAN dari-Nya kepada mereka NAMUN dalam rangka MENUNDA Hukuman mereka di ALAM DUNIA sehingga nanti PADA AKHIRNYA di Akherat mereka akan MENYESAL dengan TUMPUKAN DOSA yang Sedemikian BESAR dan Begitu BERAT beban yang harus dipikulnya ketika menghadap-Nya. Di saat itulah dia akan MERASAKAN bahwa Dirinya memang BENAR-BENAR LAYAK menerima SIKSAAN Allah. Allah memberikan KARUNIA kepada siapa saja dengan keutamaan-Nya dan Allah juga memberikan HUKUMAN kepada siapa saja dengan Penuh KEADILAN. Allah tidak perlu DITANYA tentang apa yang dilakukan-Nya, NAMUN mereka -PARA HAMBA- itulah yang harus Dipertanyakan tentang PERBUATAN dan TINGKAH POLAH mereka (diolah dari keterangan Syaikh Muhammad bin Abdul ‘Aziz al-Qor’awi dalam al-Jadid fi Syarhi Kitab at-Tauhid, hal. 275)

Setelah kita mengetahui BETAPA INDAHNYA SABAR, maka sekarang pertanyaannya adalah: sudahkah kita mewujudkan Nilai-Nilai Kesabaran ini dalam KEHIDUPAN kita? Sudahkah kita menjadikan SABAR sebagai pilar KEBAHAGIAAN kita? Sudahkah SABAR Mewarnai HATI, LISAN, dan GERAK-GERIK badan Anggota kita?

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel Muslim.Or.Id
Dari artikel Indahnya Sabar — Muslim.Or.Id by null

cara masuk surga 70 ( In Syaa Allah )

(Oleh: Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari)

ILMU ADALAH SEBAB TANGISAN

KARENA ALLÂH TA’ALA

Semakin BERTAMBAH ilmu agama seseorang, semakin tambah pula TAKUTNYA  terhadap KEAGUNGAN Allâh Ta’ala.

Allâh Ta’ala berfirman yang artinya:

Dan demikian (pula) di antara manusia,
binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak,
ada yang bermacam-macam warna (dan jenisnya).
Sesungguhnya yang TAKUT kepada Allâh di antara hamba-hamba-Nya,
hanyalah Ulama ( Pent Ahli ilmu Agama ).
Sesungguhnya Allâh Maha Perkasa lagi Maha Pengampun
”.
(Qs Fâthir/35:28)
Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

hadist

SURGA dan NERAKA ditampakkan kepadaku,
maka aku tidak melihat KEBAIKAN dan KEBURUKAN seperti hari ini.
Seandainya kamu MENGETAHUI apa yang aku ketahui,
kamu benar-benar akan sedikit TERTAWA dan banyak MENANGIS
”.

Anas bin Mâlik radhiyallâhu’anhu –perawi hadits ini- mengatakan,

Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu.
Mereka menutupi kepala mereka sambil MENANGIS sesenggukan
”.
(HR. Muslim, no. 2359)
Imam Nawawi rahimahullâh berkata,

“Makna hadits ini, ‘Aku tidak pernah melihat KEBAIKAN sama sekali melebihi apa yang telah aku lihat di dalam SURGA pada hari ini. Aku juga tidak pernah melihat KEBURUKAN melebihi apa yang telah aku lihat di dalam NERAKA pada hari ini. Seandainya kamu melihat apa yang telah aku lihat dan mengetahui apa yang telah aku ketahui, semua yang aku lihat hari ini dan sebelumnya, sungguh kamu pasti sangat TAKUT, menjadi sedikit TERTAWA dan banyak MENANGIS”.
(Syarh Muslim, no. 2359)


Hadits ini menunjukkan anjuran MENANGIS karena TAKUT terhadap SIKSA Allâh Ta’ala dan tidak memperbanyak TERTAWA, karena banyak TERTAWA menunjukkan kelalaian dan KERASNYA hati.

Lihatlah para Sahabat Nabi radhiyallâhu’anhum, begitu MUDAHNYA mereka TERSENTUH oleh NASEHAT ! Tidak sebagaimana KEBANYAKAN orang di zaman ini. Memang, mereka adalah orang-orang yang paling lembut hatinya, paling banyak pemahaman agamanya, paling cepat menyambut ajaran agama. Mereka adalah Salafus Shâlih yang mulia, maka selayaknya kita meneladani mereka.
(Lihat Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdhus Shâlihin 1/475; no. 41)

Seandainya kita mengetahui bahwa tetesan air mata karena TAKUT kepada Allâh Ta’ala merupakan tetesan yang paling dicintai oleh Allâh Ta’ala, tentulah kita akan MENANGIS karena-Nya atau BERUSAHA menangis sebisanya. Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan keutamaan tetesan air mata ini dengan sabda Beliau:

hadist

Tidak ada sesuatu yang yang lebih dicintai oleh Allâh
daripada DUA tetesan dan DUA bekas.
Tetesan yang berupa air mata karena TAKUT kepada Allâh
dan tetesan darah yang DITUMPAHKAN di jalan Allâh.
Adapun DUA bekas, yaitu bekas di jalan Allâh
dan bekas di dalam (melaksanakan) suatu KEWAJIBAN
dari kewajiban-kewajiban-Nya
”.
Namun yang perlu kita perhatikan juga bahwa MENANGIS tersebut adalah benar-benar karena Allâh Ta’ala, bukan karena MANUSIA , seperti dilakukan di hadapan jama’ah atau bahkan dishooting TV dan disiarkan secara nasional. Oleh karena itu Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam menjanjikan kebaikan besar bagi seseorang yang MENANGIS dalam keadaan SENDIRIAN. Beliau Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

hadist

Tujuh (orang) yang akan diberi NAUNGAN oleh Allâh
pada naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. ……
(di antaranya): Seorang laki-laki yang menyebut Allâh
di tempat yang SEPI sehingga kedua matanya meneteskan air mata
”.
(HR. al-Bukhâri, no. 660; Muslim, no. 1031)
Hari Kiamat adalah hari pengadilan yang agung. Hari ketika setiap hamba akan mempertanggung-jawabkan segala amal perbuatannya. Hari saat ISI HATI  manusia akan DIBONGKAR, segala RAHASIA akan DITAMPAKKAN di hadapan Allâh Yang Maha Mengetahui lagi Maha Perkasa. Maka KEMANA orang akan berlari? Alangkah bahagianya orang-orang yang akan mendapatkan naungan Allâh Ta’ala pada hari itu. Dan salah satu jalan keselamatan itu adalah MENANGIS karena takut kepada Allâh Ta’ala.

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn rahimahullâh berkata,

Wahai saudaraku, jika engkau menyebut Allâh Ta’ala, sebutlah Rabb-mu dengan HATI yang kosong dari memikirkan yang lain. JANGAN pikirkan sesuatu pun selain-Nya. Jika engkau memikirkan sesuatu selain-Nya, engkau tidak akan bisa MENANGIS karena takut kepada Allâh Ta’ala atau karena rindu kepada-Nya. Karena, seseorang tidak mungkin MENANGIS sedangkan hatinya tersibukkan dengan sesuatu yang lain. Bagaimana engkau akan MENANGIS karena rindu kepada Allâh Ta’ala dan karena takut kepada-Nya jika hatimu tersibukkan dengan selain-Nya?“.
Oleh karena itu, Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

Seorang laki-laki yang menyebut Allâh di tempat yang SEPI”,
yaitu hatinya kosong dari selain Allâh Ta’ala,
badannya juga kosong (dari orang lain),
dan tidak ada seorangpun di dekatnya
yang menyebabkan tangisannya menjadi RIYA dan SUM’AH
Namun, dia melakukan dengan ikhlas dan konsentrasi
”.
(Syarh Riyâdhus Shâlihîn 2/342, no. 449)
Setelah kita mengetahui hal ini, maka ALANGKAH pantasnya kita mulai MENANGIS karena TAKUT kepada Allâh Ta’ala.

Wallâhul Musta’ân.

[1]

HR. at-Tirmidzi, no. 1633, 2311; an-Nasâ‘i 6/12; Ahmad 2/505; al-Hâkim 4/260; al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah 14/264.
Syaikh Salîm al-Hilâli hafizhahullâh mengatakan, “Shahîh lighairihi”. Lihat penjelasannya dalam kitab Bahjatun Nâzhirîn Syarh Riyâdhus Shâlihîn 1/517; no. 448)

(Majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XIII)

cara masuk surga 69 ( In Syaa Allah )

ADAB-ADAB BERCANDA

Oleh : Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

ADAB BERCANDA

1. Tidak berkata DUSTA.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: CELAKA bagi orang yang berbicara DUSTA agar orang-orang TERTAWA, CELAKA dan CELAKA“. (HR Abu Dawud, An Nasai dan At Tirmidzi).
Anekdot-anekdot yang FIKTIF masuk dalam kategori DUSTA, seperti CERITA-CERITA yg dibuat-buat.

2. Tidak BERLEBIHAN.

Karena banyak tertawa dapat mematikan hati, Nabi bersabda: “Jauhilah banyak tertawa, karena banyak tertawa mematikan hati”. (Shahih targhih).

3. Tidak menjadikannya sebagai PROFESI, berdasarkan hadits di atas poin 1.

4. Tidak MENYAKITI Hati seorang MUSLIM.
Karena menyakiti HATI Muslim adalah HARAM. Nabi bersabda: Allah berfirman: “Siapa yang MENYAKITI waliKu maka Aku mengumumkan PERANG dengannya”. (Bukhari Muslim).

5. Tidak berisi GHIBAH.
Seperti MEMPRAKTEKAN Jalan seseorang yg CACAT, untuk Memperolok dan lainnya.

6. Tidak mengandung perolokkan terhadap AL QUR’AN dan AGAMA Allah.

7. Bercanda untuk menimbulkan suasana keakraban dan menghilangkan kesenjangan merupakan hal yg baik, selama dihindari perkara-perkara di atas.

cara masuk surga 68 ( In Syaa Allah )

Terlalu Sering Tertawa, Siap-Siap Bertakbir Empat Kali Untuknya

Sebagaimana perkataan Imam Syafi’i bagi orang yang telah mati hatinya yaitu bertakbir empat kali (shalat jezanah) karena ia hanya menyeret jasad yang tidak memiliki hati di muka bumi. Sebenarnya bercanda  baik, akan tetapi ia sering kali berlebihan dan tidak melihat waktu yang tepat.

Sanguin harus sering-sering ingat sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَلَا تُكْثِرِ الضَّحِكَ، فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ القَلْبَ

 Dan janganlah terlalu banyak tertawa. Sesungguh­nya terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati.”[1]

 Terlalu sering ketawa juga menunjukkan bahwa orang tersebut seperti lupa akhirat. Ia lalai dan tidak mencerminkan sikap seorang muslim yang berorientasi akhirat. Karena jika seorang muslim ingat akhirat maka ia akan sangat jarang tertawa, karena ia belum tentu masuk surga dan belum tentu dihindarkan dari siksa neraka yang kekal.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عُرِضَتْعَلَيَّالْجَنَّةُوَالنَّارُفَلَمْأَرَكَالْيَوْمِفِيالْخَيْرِوَالشَّرِّوَلَوْتَعْلَمُوْنَمَاأَعْلَمُلَضَحِكْتُمْقَلِيْلاًوَلَبَكَيْتُمْكَثِيرًاقَالَفَمَاأَتَىعَلَىأَصْحَابِرَسُوْلِاللَّهِصَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَيَوْمٌأَشَدُّمِنْهُقَالَغَطَّوْارُءُوْسَهُمْوَلَهُمْخَنِيْنٌ

“Surga dan neraka ditampakkan kepadaku, maka aku tidak melihat tentang kebaikan dan keburukan seperti hari ini. Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
Anas bin Malik –perawi hadits ini mengatakan, “Tidaklah ada satu hari pun yang lebih berat bagi para Sahabat selain hari itu. Mereka menutupi kepala mereka sambil menangis sesenggukan.”[2]

Mengenai seringnya bercanda ini sebaiknya berhati-hati atau tepatnya bisa “mengerem” sedikit kebiasaannya ini. Karena selain bisa mematikan hati karena seringnya tertawa, ia juga bisa melanggar beberapa adab dan bisa merusak hubungan dengan beberapa orang. Misalnya orang yang gampang sensitif atau beberapa orang yang memang tidak mempunyai jiwa humoris dan selalu agak serius.

Pertama:

Terkadang bercanda bisa membuat orang lain sakit hati padahal kita tidak berniat untuk menyakiti harinya, hanya sekedar bercanda. Karenanya harus berhati-hati. Sebagaimana kisah bercandanya Rasulallah shallallahu ‘alaihi wassalam kepada seorang nenek tua, beliau mengatakan bahwa tidak ada nenek-nenek di surga, sehingga nenek tersebutpun pergi dengan sedih dan tentunya beliau segera memanggil dan menjelaskan yang sebenarnya. Bisa dilihat pada hadits berikut.

عَنِالْحَسَنِقَالَ: أَتَتْعَجُوزٌإِلَىالنَّبِيِّ-صَلَّىاللَّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَ-،فَقَالَتْ: (يَارَسُولَاللَّهِ،ادْعُاللَّهَأَنْيُدْخِلَنِيالْجَنَّةَ) فَقَالَ: يَاأُمَّفُلاَنٍ،إِنَّالْجَنَّةَلاَتَدْخُلُهَاعَجُوزٌ. قَالَ: فَوَلَّتْتَبْكِيفَقَالَ: (( أَخْبِرُوهَاأَنَّهَالاَتَدْخُلُهَاوَهِيَعَجُوزٌإِنَّاللَّهَتَعَالَىيَقُولُ: { إِنَّاأَنْشَأْنَاهُنَّإِنْشَاءًفَجَعَلْنَاهُنَّأَبْكَارًاعُرُبًاأَتْرَابًا}

Diriwayatkan dari Al-Hasan radhiallahu ‘anhu, dia berkata, “Seorang nenek tua mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nenek itu pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Berdoalah kepada Allah agar Dia memasukkanku ke dalam surga!’ Beliau pun mengatakan, ‘Wahai Ibu si Anu! Sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh nenek tua.’ Nenek tua itu pun pergi sambil menangis. Beliau pun mengatakan, ‘Kabarkanlah kepadanya bahwasanya wanita tersebut tidak akan masuk surga dalam keadaan seperti nenek tua. Sesungguhnya Allah ta’ala mengatakan: (35) Sesungguhnya kami menciptakan mereka (Bidadari-bidadari) dengan langsung. (36) Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. (37) Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS Al-Waqi’ah)[3]

Kedua:

Hendaknya memperhatikan bahwa bercanda boleh saja akan tetapi jangan sampai berdusta. Di zaman sekarang bercanda terkadang keterlaluan, sampai berdusta dan mengarang cerita yang bohong. Ini sering dilakukan oleh pelawak-pelawak untuk melariskan “dagangannya”.  Ini ada ancamannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau  bersabda

وَيْلٌلِلَّذِىيُحَدِّثُفَيَكْذِبُلِيُضْحِكَبِهِالْقَوْمَوَيْلٌلَهُوَيْلٌلَهُ.

“Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum

tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya. Kecelakaan untuknya.[4]

 

Ketiga:

Tidak boleh bercanda dalam urusan agama khususnya mengolok-ngolok. Misalnya: ketika membaca Al-Fatihah “waladhoompet” di jawab “aambiill”

“mengatakan kambing pada orang yang menjalankan sunnah memelihara jenggot”

“mengatakan “ninja” pada wanita yang menerapkan sunnah cadar”

Ini yang peling berbahaya dalam bercanda atau bermain-main.

Sebagaimana firman Allah,

وَلَئِنْسَأَلْتَهُمْلَيَقُولُنَّإِنَّمَاكُنَّانَخُوضُوَنَلْعَبُقُلْأَبِاللَّهِوَآيَاتِهِوَرَسُولِهِكُنْتُمْتَسْتَهْزِئُونَ() لَاتَعْتَذِرُواقَدْكَفَرْتُمْبَعْدَإِيمَانِكُمْإِنْنَعْفُعَنْطَائِفَةٍمِنْكُمْنُعَذِّبْطَائِفَةًبِأَنَّهُمْكَانُوامُجْرِمِينَ

“ (Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” (66) Tidak usah kamu minta maaf, Karena kamu kafir sesudah beriman. jika kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (At-Taubah : 65-66)

Keempat:

Tidak melakukan ghibah, membicarakan kejelekan orang lain ketika bercanda atau malah menggunakan kejelekan, cacat dan kekurangan orang lain untuk bercanda dan bahan candaan. Ini terkadang sudah lumrah, akan tetapi ini bukanlah ajaran dan adab Islam.

Allah Ta’ala berfirman,

يَاأَيُّهَاالَّذِينَآمَنُوالَايَسْخَرْقَوْمٌمِنْقَوْمٍعَسَىأَنْيَكُونُواخَيْرًامِنْهُمْوَلَانِسَاءٌمِنْنِسَاءٍعَسَىأَنْيَكُنَّخَيْرًامِنْهُنَّوَلَاتَلْمِزُواأَنْفُسَكُمْوَلَاتَنَابَزُوابِالْأَلْقَابِبِئْسَالِاسْمُالْفُسُوقُبَعْدَالْإِيمَانِوَمَنْلَمْيَتُبْفَأُولَئِكَهُمُالظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiridan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al-Hujurat: 11)

Kelima:

Tidak boleh bercanda dengan mengambil barang, sekedar menyembunyikan agar dia takut, atau bercanda untuk menakut-nakuti orang lain. Ini juga sudah lumrah dan sudah dianggap biasa oleh masyarakat kita. Dan juga sudah banyaknya acara “mengerjai”, acara televisi untuk membuat seseorang dimain-mainkan bahkan ditakut-takuti. Ini semua dilarang dalam adab Islam. Walaupun orang yang “dikerjai” nampaknya senang , akan tetapi kita tidak tahu bagaimana kepanikannya dan kesusahannya ketika dikerjai.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

لاَيَأْخُذَنَّأَحَدُكُمْمَتَاعَأَخِيهِلاَعِبًاوَلاَجَادًّا

“Tidak boleh seorang dari kalian mengambil barang saudaranya, baik bercanda maupun serius.”

 

Beliau juga bersabda,

لاَيَحِلُّلِمُسْلِمٍأَنْيُرَوِّعَمُسْلِمًا

 

“Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.”[5]

Demikian semoga bermanfaat

@Pogung Dalangan,  Yogyakarta Tercinta

Penyusun:   Raehanul Bahraen

Artikel www.muslimafiyah.com

[1]HR. Tirmidzi 2/50, Dishahihkan Syaikh Al-Alba­ni, Silsilah Shohihah 3/4

[2]HR. Muslim, no. 2359

[3]HR At-Tirmidzi dalam Syamaa-il-Muhammadiyah no. 240. Syaikh Al-Albani berkata, “Hasan.” (Mukhtashar Syamaa-il dan Ash-Shahiihah no. 2987).

[4]HR Abu Dawud no. 4990. Syaikh Al-Albani berkata, “Hasan.” (Shahih Targhib wat-Tarhiib no. 2944).

[5]HR Abu Dawud no. 5004, . Syaikh Al-Albani berkata, “Shahih.” (Shahih Sunan Abi Dawud)

http://muslimafiyah.com/terlalu-sering-tertawa-siap-siap-bertakbir-empat-kali-untuknya.html

cara masuk surga 67 ( In Syaa Allah )

Akhlak ” Bercanda Ada Etikanya”

 Published by

 Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Bercanda atau bersenda gurau adalah salah satu bumbu dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat. Ia terkadang diperlukan untuk menghilangkan kejenuhan dan menciptakan keakraban, namun tentunya bila disajikan dengan bagus sesuai porsinya dan melihat kondisi yang ada. Sebab, setiap tempat dan suasana memang ada bahasa yang tepat untuk diutarakan. Khalil bin Ahmad berkata, “Manusia dalam penjara (terkekang) apabila tidak saling bercanda.” Pada suatu hari, al-Imam asy-Sya’bi rahimahullah bercanda, maka ada orang yang menegurnya dengan mengatakan, “Wahai Abu ‘Amr (kuniah al-Imam asy-Sya’bi, -red.), apakah kamu bercanda?” Beliau menjawab, “Seandainya tidak seperti ini, kita akan mati karena bersedih.” (al-Adab asy-Syar’iyah, 2/214) Namun, jika sendau gurau ini tidak dikemas dengan baik dan menabrak norma-norma agama, bisa jadi akan memunculkan bibit permusuhan, sakit hati, dan trauma berkepanjangan. Pada dasarnya, bercanda hukumnya boleh, asalkan tidak keluar dari batasanbatasan syariat.

Sebab, Islam tidak melarang sesuatu yang bermanfaat dan dibutuhkan oleh manusia sebagaimana Islam melarang hal-hal yang membahayakan dan tidak diperlukan oleh manusia. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Bergaullah kamu dengan manusia (namun) agamamu jangan kamu lukai.” (Shahih al-Bukhari, Kitabul Adab)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Para Sahabat Bercanda Manakala kita membuka kembali lembaran sejarah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kita akan mendapati bahwa beliau adalah sosok yang bijak dan ramah dalam pergaulan. Beliau bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya dan mendudukkan orang sesuai kedudukannya. Beliau berbaur dengan sahabat dan bercanda dengan mereka. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Nabi n bergaul (dekat) dengan kita. Sampai-sampai beliau mengatakan kepada adikku yang masih kecil, ‘Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh an-Nughair?’.” (Shahih al-Bukhari no. 6129)

An-Nughair adalah burung kecil sebangsa burung pipit. Alkisah, Abu Umair ini dahulu bermain-main dengan burung kecil miliknya. Pada suatu hari burung itu mati dan bersedihlah dia karenanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengetahui hal itu mencandainya agar tenteram hatinya dan hilang kesedihannya. Maha benar Allah Subhanahu wata’ala ketika berfirman,

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya kamu benarbenar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 4)

Memang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat dekat dengan para sahabatnya sehingga tahu persis kebutuhan dan problem yang mereka hadapi, kemudian beliau membantu mencarikan jalan keluarnya. Masih kaitannya dengan senda gurau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ada beberapa riwayat yang diabadikan oleh ulama hadits, di antaranya:

1. Dari Anas bin Malik, ia berkata,

“Sungguh, ada seorang lelaki meminta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sebuah kendaraan untuk dinaiki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, ‘Aku akan memberimu kendaraan berupa anak unta.’ Orang itu (heran) lalu berkata, ‘Apa yang bisa saya perbuat dengan anak unta itu?’ Nabi n bersabda, ‘Bukankah unta betina itu tidak melahirkan selain unta (juga)?’.”(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam al- Misykat no. 4886)

Orang ini menyangka bahwa yang namanya anak unta mesti kecil, padahal kalau sedikit berpikir, dia tidak akan menyangka seperti itu, karena unta yang dewasa juga anak dari seekor unta. Dalam hadits ini, di samping mencandai orang tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberi bimbingan kepadanya dan yang lainnya agar orang yang mendengar suatu ucapan seyogianya mencermati lebih dahulu dan tidak langsung membantahnya, kecuali setelah tahu secara mendalam maksudnya. (Tuhfatul Ahwadzi 6/128)

2. Dahulu, ada seorang sahabat bernama Zahir bin Haram radhiyallahu ‘anhu. Dia biasa membawa barang-barang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dari badui (pedalaman) karena dia seorang badui. Apabila Zahir ingin pulang ke kampungnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersiapkan barang-barang yang dibutuhkan Zahir di tempat tinggalnya. Zahir ini jelek mukanya, tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyenanginya. Pada suatu hari ia datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menjual barang dagangannya. Diam-diam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendekapnya dari belakang. Zahir berkata,“Siapa ini? Lepaskan saya!” Zahir lalu menoleh, ternyata ia adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Zahir pun menempelkan punggungnya pada dada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Siapa yang mau membeli budak ini?” Zahir berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, kalau begitu, niscaya engkau akan mendapatiku sebagai barang (budak) yang tidak laku dijual (karena jeleknya wajah).” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Akan tetapi, engkau di sisi Allah Subhanahu wata’ala bukan orang yang tidak laku dijual.”—atau beliau bersabda—”Akan tetapi, engkau di sisi Allah Subhanahu wata’ala itu mahal.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad 3/161 dan al-Baghawi dalam Syarhu as-Sunnah)

Di sini, di samping bercanda dengan ucapan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bercanda dengan perbuatan. Ini adalah sebagian contoh senda guraunya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan, perlu diketahui bahwa senda gurau beliau adalah haq, bukan kedustaan. At-Tirmidzi rahimahullah meriwayatkan dari jalan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa para sahabat bertanya,“Wahai Rasulullah, Anda mencandai kami?” Beliau bersabda,

إِنِّي لَا أَقُوْلُ إِلَّا حَقًّا

“Saya tidak berkata selain kebenaran.” (Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1990)

Seolah-olah, mereka ingin mengatakan bahwa tidak pantas bagi beliau yang membawa risalah (tugas) dari Allah Subhanahu wata’ala dan mulia kedudukannya di sisi Allah Subhanahu wata’ala untuk bercanda. Beliau pun mengatakan bahwa beliau memang bercanda, namun tidak mengatakan kecuali kebenaran. (lihat Syarhul Misykat karya ath-Thibi, 10/3140) Demikian juga para sahabat. Bakr bin Abdullah mengisahkan, “Dahulu para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (bercanda dengan) saling melempar semangka. Tetapi, ketika mereka dituntut melakukan sesuatu yang serius, mereka adalah para lelaki.” (lihat Shahih al-Adabul al-Mufrad no. 201)

Kisah di atas menunjukkan bolehnya bercanda dengan perbuatan sebagaimana ucapan. Namun, tidaklah seluruh waktu para sahabat habis untuk bersenda gurau. Mereka hanyalah melakukannya kadangkadang. Dan tampaknya, mereka di sini tidak saling melempar buah semangka, namun hanya kulitnya. Wallahu a’lam.

Bolehnya bercanda juga tidak bisa menjadi alasan untuk menjadikannya sebagai profesi (sebagai pelawak/ komedian, -red.). Ini adalah sebuah kekeliruan. (Fathul Bari 10/527)

Bercanda Ada Batasannya

Ada beberapa hal yang semestinya diperhatikan oleh seorang ketika bercanda, di antaranya:

1. Tidak bercanda dengan ayat ayat Allah Subhanahu wata’ala dan hukum syariat-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang Nabi Musa ‘Alahissalam ketika menyuruh kaumnya (bani Israil) untuk menyembelih sapi.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata, “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” (al- Baqarah: 67)

Maksudnya, aku (Musa) tidaklah bercanda dalam hukum-hukum agama karena hal itu adalah perbuatan orang orang yang bodoh. (Faidhul Qadir 3/18)

2. Tidak berdusta dalam bergurau

Nabi n bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya saya bercanda dan saya tidaklah mengatakan selain kebenaran.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir dari jalan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah menyatakannya sahih dalam Shahih al-Jami’)

3. Tidak menghina orang lain

Misalnya, menjelek-jelekkan warna kulit seseorang dan cacat fisiknya.

4. Tidak bercanda di saat seseorang dituntut untuk serius

Sebab, hal ini bertentangan dengan adab kesopanan dan bisa jadi mengakibatkan kejelekan bagi pelakunya atau orang lain.

5. Tidak mencandai orang yang tidak suka dengan candaan

Sebab, hal ini bisa menimbulkan permusuhan dan memutus tali persaudaraan.

6. Tidak tertawa terbahak-bahak

Dahulu, tawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hanyalah dengan senyuman. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kita sering tertawa sebagaimana sabdanya.

لاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيْتُ الْقَلْبَ

“Janganlah engkau sering tertawa, karena sering tertawa akan mematikan hati.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3400)

Al – Imam an – Nawawi rahimahullah menerangkan, “Ketahuilah, bercanda yang dilarang adalah yang mengandung bentuk melampaui batas dan dilakukan secara terus-menerus. Sebab, hal ini bisa menimbulkan tawa (yang berlebihan), kerasnya hati, melalaikan dari mengingat Allah Subhanahu wata’ala dan memikirkan hal-hal penting dalam agama. Bahkan, seringnya berujung pada menyakiti orang, menimbulkan kedengkian, dan menjatuhkan kewibawaan. Adapun candaan yang jauh dari ini semua, dibolehkan, seperti yang pernah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu, namun tidak terlalu sering. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya untuk sebuah maslahat, yaitu menyenangkan dan menenteramkan hati orang yang diajak bicara. Yang seperti ini sunnah. (Syarah ath-Thibi rahimahullah terhadap al-Misykat 10/3140)

7. Tidak mengacungkan/ menodongkan senjata kepada saudaranya

Terkadang, ada orang yang bercanda dengan mengacungkan senjatanya (pisau atau senjata api) kepada temannya. Hal ini tentu sangat berbahaya karena bisa melukai, bahkan membunuhnya. Sering terjadi, seseorang bermainmain menodongkan pistolnya kepada orang lain. Ia menyangka pistolnya kosong dari peluru, namun ternyata masih ada sehingga mengakibatkan kematian orang lain. Akhirnya dia pun menyesal karena ternyata masih tersisa padanya “peluru setan” yang mematikan. Namun, apa mau dikata, nyawa orang lain melayang karena kedunguannya. Ini akibat menyelisihi bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang bersabda, “Janganlah salah seorang kalian menunjuk kepada saudaranya dengan senjata, karena dia tidak tahu, bisa jadi setan mencabut dari tangannya, lalu dia terjerumus ke dalam neraka.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Demikian pula sabda beliau (yang artinya), “Barang siapa mengacungkan besi kepada saudaranya, para malaikat akan melaknatnya, meskipun ia saudara kandungnya.” (HR. Muslim dan at- Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) Larangan mengacungkan senjata kepada saudara ini bersifat umum, baik serius maupun bercanda. Sebab, manusia menjadi target setan untuk dijerumuskan kepada kebinasaan. Dengan sedikit saja tersulut kemarahan, seseorang bisa tega membunuh saudaranya dengan senjata itu. Adapun mengacungkan senjata kepada orang zalim yang menyerangnya dan akan membunuhnya, merampas hartanya, atau melukai kehormatannya, boleh bagi seseorang untuk menakutinakutinya dengan senjata supaya terhindar dari kejahatannya. Apabila upaya menakuti-nakuti ini berhasil, selesailah masalahnya. Namun, bila orang zalim itu tetap menyerang, ia boleh melakukan perlawanan. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

فَمَنِ اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدَىٰ عَلَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Barang siapa menyerang kamu, seranglah ia seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (al- Baqarah: 194)

Tidaklah Nabi n melarang kita dari bercanda dengan senjata kecuali karena khawatir dari (godaan) setan kepada orang yang beriman. Setan telah mengarahkan perangkapnya kepada orang yang beriman agar terjerumus dalam perkara yang menyeretnya kepada neraka dan kemurkaan Allah  Subhanahu wata’ala. Demi menutup jalan yang berbahaya ini, kita dilarang bercanda= yang bisa menimbulkan kejelekan dan menakut-nakuti muslimin atau bahkan mengakibatkan hilangnya nyawa. Betapa banyak petaka yang kita saksikan karena candaan yang seperti ini. Misalnya, seseorang bercanda dengan berteriak keras dari belakang punggung saudaranya yang sedang santai atau di sisi telinganya sehingga dia terkejut. Semisal ini pula adalah mengejutkan seseorang dengan memuntahkan peluru di atas kepala saudaranya untuk menakutnakuti. Demikian pula mengejutkan orang dengan membunyikan klakson mobil sekeras-kerasnya ketika lewat di sisinya sehingga berdebar-debar jantungnya dan hampir copot. Ada juga mainan ular-ularan yang mirip ular sungguhan yang dilemparkan kepada orang lain yang tidak mengetahuinya. Ia sangka itu ular sungguhan sehingga terkejut dan takut tidak kepalang. Sungguh, candaan yang tersebut di atas dan semisalnya telah banyak menyisakan kepiluan dan trauma yang mendalam.” (lihat Ishlahul Mujtama’ hlm. 36—37)

8. Mengambil harta orang dengan bercanda

Tidak dibenarkan menurut agama seseorang bercanda dengan mengambil harta atau barang milik saudaranya, lalu dia sembunyikan di suatu tempat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ صَاحِبِهِ لَاعِبًا وَلَا جَادًّا وَإِنْ أَخَذَ عَصَا صَاحِبِهِ فَلْيَرُدَّهَا عَلَيْهِ

“Janganlah salah seorang kalian mengambil barang temannya (baik) bermain-main maupun serius. Meskipun ia mengambil tongkat temannya, hendaknya ia kembalikan kepadanya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, at-Tirmidzi, dan al-Hakim. Asy-Syaikh al-Albani t menyatakan hasan dalam Shahih al-Jami’)

Sisi dilarangnya mengambil barang saudaranya secara serius itu jelas, yaitu itu adalah bentuk pencurian. Adapun  larangan mengambil barang orang lain dengan bergurau karena hal itu memang tidak ada manfaatnya, bahkan terkadang menjadi sebab timbulnya kejengkelan dan tersakitinya pemilik barang tersebut. (Aunul Ma’bud 13/346—347)

9. Tidak menakut-nakuti di jalan kaum muslimin

Menciptakan ketenangan di tengahtengah masyarakat adalah hal yang dituntut dari setiap individu. Tetapi, karena kebodohan dan jauhnya manusia dari bimbingan agama, masih saja didapati orang-orang yang iseng dan bergurau dengan menakut-nakuti di jalan yang biasa dilalui oleh orang. Bentuk menakut – nakutinya beragam. Ada yang modusnya dengan penampakan bentuk yang menakutkan, seperti pocongan atau suara-suara yang mengerikan, terutama di jalan-jalan yang gelap. Model bercanda seperti ini sungguh keterlaluan karena bisa menyisakan trauma yang berkepanjangan, terhalanginya seseorang dari keperluannya, bahkan terhalanginya seseorang dari masjid dan majelis-majelis kebaikan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, lihat Shahihul Jami’no. 7659)

10. Berdusta untuk menimbulkan tawa

Apabila seorang bercanda dengan kedustaan, ia telah keluar dari batasan mubah (boleh) kepada keharaman. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ، وَيْلٌ لَهُ، وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah orang yang bercerita lalu berdusta untuk membuat tawa manusia, celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan al-Hakim dari Mu’awiyah bin Haidah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah menyatakannya hasan dalam Shahih al-Jami’)

Ia celaka karena dusta sendiri adalah pokok segala kejelekan dan cela, sehingga apabila digabungkan dengan hal yang mengundang tawa yang bisa mematikan hati, mendatangkan kelalaian, dan menyebabkan kedunguan, tentu hal ini lebih buruk. (Faidhul Qadir 6/477) Akhirnya, kita memohon kepada Allah  Subhanahu wata’ala agar diberi taufik dan bimbingan- Nya untuk selalu lurus dalam berbuat dan berkata-kata.

http://asysyariah.com/akhlak-bercanda-ada-etikanya/

cara masuk surga 66 ( In Syaa Allah )

Bercanda yang Berpahala

Sering kali kita melengkapi kehidupan ini dengan canda dan tawa. Terkadang kita memerlukan penyegaran kembali setelah lama beraktifitas dan menjalani berbagai kesibukan yang melelahkan. Di saat itulah kita dapat melepaskan lelah dan penat dengan canda dan tawa. Hal itu kerap kali terjadi pada para wanita, terkadang bermula dari pembicaraan beberapa orang (ngobrol) dan setelah itu timbul canda dan tawa (guyon).

Namun perlu diwaspadai, akankah canda tersebut menimbulkan masalah atau tidak?

Karena banyak masalah besar yang awalnya hanya diakibatkan karena bercanda yang berlebihan. Nah, mengapa hal ini bisa terjadi? Kemungkinan ada sesuatu yang salah di dalamnya.

Dalam agama Islam canda dan tawa ini diperbolehkan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, beliau pernah bercanda dengan isteri dan sahabat beliau. Oleh karena itu saudariku, kita perlu mengetahui bagaimana adab bercanda sehingga tidak menimbulkan masalah tetapi justru berpahala yaitu dengan meneladani bagaimana adab bercanda yang Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam ajarkan.

Bercandalah dengan Niat yang Benar

Saudariku mulailah dari niat yang benar ketika akan mengawali suatu amalan, setelah itu lakukan amalan tersebut sesuai dengan petunjuk dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam termasuk dalam bercanda. Perbuatan ini akan mejnadi sia-sia apabila tidak dilandasi dengan kedua syarat tersebut (niat yang lurus dan mengukuti petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam).  Niat yang lurus maksudnya supaya bersemangat untuk melakukan perkerjaan yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat dan memperhatikan adab Rasulullah dalam bercanda.

Jangan Berlebihan dalam Bercanda dan Tertawa

Saudariku, ketahuilah. Bercanda dan tertawa yang berlebihan dapat mengeraskan hati, serta dapat menjatuhkan kewibawaan kita di hadapan orang lain.

Jangan Bercanda dengan Orang yang Tidak Suka Bercanda

Setiap orang mempunyai sifat yang berbeda-beda. Ada tipe orang yang suka bercanda namun juga ada orang yang serius atau tidak suka bercanda. Terkadang juga ada yang mempunyai sifat perasa dan ada juga yang nyantai/ cuek. Mengenali sifat orang dalam bergaul apalagi dalam bercanda sangat diperlukan. Jangan sampai menempatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan tempatnya sehingga berlaku dhzolim terhadap saudara kita. Bisa saja dengan ucapan tersebut saudara kita menjadi sakit hati, padahal kita tidak menyadari akan hal tersebut.

Saudariku, tidak dalam segala perkara kita boleh bercanda, ada hal-hal yang diharamkan kita bercanda yaitu:

1. Bercanda/ bermain-main dengan syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala

Orang-orang bermain-main atau mengejek syari’at Allah atau Al Qur’an atau Rasulullah serta sunnah, maka sesungguhnya dia kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman, yang artinya,

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab,”Sesungguhnya kami hanyalah bersendau gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu meminta maaf, karena engkau telah kafir sesudah beriman…” (Qs. At Taubah: 65-66).

Ayat ini turun berkaitan dengan seorang laki-laki yang mengolok-olok dan berdusta dengan mengatakan bahwa Rosulullah dan shahabatnya adalah orang yang paling buncit perutnya, pengecut dan dusta lisannya. Padahal laki-laki ini hanya bermaksud untuk bercanda saja. Namun bercanda dengan mengolok-olok atau mengejek syari’at agama dilarang bahkan dapat menjatuhkan pelakunya pada kekafiran.

2. Berdusta saat bercanda

Ada sebagian orang yang meremehkan dosa dusta dalam hal bercanda dengan alasan hal ini hanya guyon saja untuk mencairkan suasana. Hal ini telah di jawab oleh sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

“Aku menjamin sebuah taman di tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah Surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun ia bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seorang yag baik akhlaknya.” (HR. Abu Daud)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bercanda, namun tetap jujur serta tidak ditambahi kata-kata dusta. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku juga bercanda, dan aku tidak mengatakan kecuali yang benar.” (HR. At-Thabrani dalam Al-Kabir)

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Celakalah seorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa, celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Ahmad).

Dusta dalam bercanda bahkan sering ditemui bahkan dijadikan tontonan seperti lawak yang dijadikan sebagai hiburan di televisi dan sepertinya sudah akrab dan tidak lagi disalahkan. Padahal hal tersebut bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Apabila kita mau merenungi hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka tentunya kita tidak akan berani untuk berdusta sekalipun dalam bercanda.

3. Menakuti-nakuti seorang muslim untuk bercanda

Tidak diperbolehkan menakuti seorang muslim baik serius atau bercanda. Bayangkan apabila kita membuat terkejut seseorang, padahal beliau mempunyai sakit jantung. Perbuatan ini dapat membuat mudharat yang lebih besar, yaitu dapat mendadak meninggal dengan sebab perbuatan tersebut. Perbuatan ini tidak boleh dilakukan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya baik bercanda ataupun bersungguh-sungguh, barangsiapa mengambil tongkat saudaranya hendaklah ia mengembalikan.” (HR. Abu Daud).

4. Melecehkan kelompok tertentu

Ada juga orang yang bercanda dengab mengatakan “Hai si hitam” dengan maksud menjelek-jelekkan penduduk dari daerah tertentu yang asal kulitnya adalah hitam.

Hal ini tidak diperbolehkan sesuai dengan firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan jangan suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim” (Qs. Al-Hujuraat: 11)

Yang dimaksud dengan “Jangan suka mencela dirimu sendiri”,  ialah mencela antara sesama mukmin, sebab orang-orang mukmin seperti satu tubuh.

5.  Menuduh manusia dan berdusta atas mereka

Misalnya seorang bercanda dengan sahabatnya lalu ia mencela, menuduhnya atau mensifatinya dengan perbuatan keji. Seperti seseorang berkata kepada temannya, “Hai anak zina.” Tuduhan ini bisa menyebabkan jatuhnya hukum, karena menuduh ibu dari anak tersebut telah melakukan zina.

Bercandalah kepada Orang yang Membutuhkan

Bercandalah kepada anak-anak seperti yang pernah dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Hai dzul udzunain (wahai pemilik dua telinga).”

Dari hadits ini dapat kita lihat bahwa Rasulullah tidak pernah berdusta walaupun dalam keadaan bercanda dan beliaulah orang yang paling lembut hatinya.

Saudariku, semoga Allah menjaga kita dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan dapat menjadikan setiap detik kita amalan yang diberkahi. Wallohul musta’an.

*) Diringkas dari buku Panduan Amal Sehari Semalam pada bab “Bercanda Boleh Saja, Tetapi…” dengan sedikit perubahan dan tambahan dari kitab Al Irsyad oleh Ummu Salamah.

http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/bercanda-yang-berpahala.html

cara masuk surga 65 ( In Syaa Allah )

Jangan Lupakan Adab ketika Bercanda

Bercanda merupakan salah satu hal yang digemari masyakat Indonesia, baik itu anak-anak maupun orang tua; laki-laki maupun wanita; penarik becak maupun pedagang; pelajar maupun pegawai. Pokoknya segala lapisan gemar bercanda.

Saking tersebarnya kegemaran dan hobbi bercanda ini di masyarakat Indonesia, sampai – sampai dijadikan profesi oleh sebagian orang. Nah, muncullah di sana badut- badut, grup-grup lawak dan banyolan, ludruk, kelompok musik humoris, pantomin, film-film humoris, promosi dan media massa yang dihiasi dengan humor. Bukan cuma lewat media audio-visual, bahkan lewat karya tulis, dan buku-buku. Lebih ironisnya lagi kegemaran bercanda ini digunakan oleh sebagian kyai dan ustadz untuk menarik massa, pemanis retorika dalam berceramah dan berkhutbah sehingga menjadi ciri khas bagi dirinya. Tak heran jika disana ada sebagian pelawak dan artis jadi ustadz!

Para Pembaca yang budiman, di sana terdapat beberapa canda yang diharamkan, karena melampaui batas syari’at, diantaranya:

  • Menyinggung Allah, Rasul-Nya, dan Syari’at-Nya.

Di antara musibah terbesar yang banyak melanda umat manusia, dari dulu sampai sekarang. Yaitu menghina dan menyinggung Allah, para Rasul-Nya, dan syari’at yang dibawa oleh mereka karena tidak sesuai dengan hawa nafsunya.

Allah berfirman,

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

“Maka berkatalah pemimpin-pemimpin dari kaumnya:”Kami tidak melihat kamu , melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikutimu, melainkan orang yang hina-dina diantara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apapun atas kami. Bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”. (QS. Huud : 27)

Ejekan seperti ini, sama dengan ejekan dan ocehan sebagian orang yang biasa mengejek orang-orang yang belajar agama seraya berkata, “Tak ada gunanya kamu belajar agama. Coba lihat orang yang belajar, tak ada di antara mereka yang kaya,semuanya kere dan miskin. Modelnya juga kayak orang kampungan dan bodoh-bodoh”.

Parahnya lagi, ketika mereka diajak melaksanakan sunnah Rasul Shallallahu ‘alayhi wasallam seperti memanjangkan jenggot sesuai perintah Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam , mereka ngomel, “Wah, ngapain panjangkan jenggot, mirip orang tua aja. Lagian jorok dan ketinggalan zaman”. Si miskin ini tak tahu, jika ia mencela masalah jenggot termasuk celaan terhadap Syari’at Islam sehingga membuat dirinya terancam kafir!

Syaikh Abdul Aziz bin Baz-rahimahullah- berkata, Barang siapa yang mengolok-olok suatu (ajaran) dari agama Rasul, atau pahalanya, atau siksaannya, maka sungguh ia telah kafir berdasarkan firman-Nya:

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Katakanlah :”Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok”. (QS.At-Taubah : 65-66) . [Lihat Majmu’ Fatawa wa Maqolat Mutanawwi’ah (1/131)]

Saudari-saudari kita yang yang berjilbab dan bercadar sering mendapatkan olokan dari masyakat disebabkan mereka memakai jilbab yang menutupi seluruh tubuhnya, longgar, tebal dan berwarna hitam. Di mana-mana mereka mendapat olokan dari masyarakat. Digelarilah: Ninja, setan, kemah berjalan, Vampire, tukang copet dan kata-kata yang jorok lainnya.

Menanggapi masalah ini, Lajnah Da’imah berfatwa, “Barangsiapa yang mengolok-olok seorang wanita muslimah atau laki-laki muslim lantaran ia berpegang teguh dengan syari’at Islam, maka ia kafir. Sama saja apakah (olokan) itu karena berhijabnya seorang wanita muslimah dengan hijab syar’i atau karena masalah (syari’at) lainnya”. Lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah li Al-Buhuts Al-Ilmiyyah wa Al-Ifta’ (2/14 -15)

Wahai pembaca yang budiman, anda telah melihat bahayanya menyinggung syari’at Allah ketika bercanda dan humor. Janganlah kalian mengolok mereka lantaran mereka memanjangkan jenggot atau memendekkan celananya di atas mata kaki. Sebaiknya kalian diam dan mendoakan mereka agar tetap teguh di atas sunnah.

Di antara perkara yang masuk dalam masalah ini adalah menjadikan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasululllah Shallallahu ‘alayhi wasallam sebagai bahan anekdot. Hindarilah karena ini berbahaya.

  • Merendahkan Orang Lain

Bercanda merupakan suatu hal yang memang mengasyikkan. Namun hal ini kadang mengantarkan pelakunya merendahkan orang lain.

Kalian akan melihat ada sebagian orang yang meniru gaya jalan kawannya, dan cara ngomongnya dengan alasan humor. Sekelompok lagi, ada sebagian yang memberikan gelar-gelar buruk kepada kawan dan saudaranya. Andaikan gelar itu diberikan kepadanya, niscaya hatinya akan jengkel. Bahkan ada di antara manusia yang tak berperasaan, saat bercanda ia memukul temannya. Semua ini mereka lakukan dengan alasan humor.

Semua ini merupakan perendahan terhadap martabat orang lain, apalagi ia muslim. Penyakit ini muncul disebabkan karena penyakit sombong dan hilangnya rasa malu di hati pelakunya. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- pernah bersabda,

الْكِبْرُ: بَطْرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan memandang remeh orang lain”. [HR.Muslim dalam Shohih-nya (91)]

Seseorang yang memiliki iman dan rasa malu di hadapan Allah, niscaya tak mungkin akan mengantarkan pemiliknya kepada sikap sombong dan merendahkan orang lain. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

الْحَيَاءُ وَالْإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِيْعًا فَإِذَا رَفَعَ أَحَدُهُمَا رَفَعَ الْآخَرُ

“Malu dan iman dikumpulkan bersama-sama. Jika yang satu hilang, maka yang lain pun akan hilang”. [HR.Al-Hakim (58) dan Al-Baihaqy dalam Asy-Syu’ab (7727), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (4/297). Lihat Jilbab Al-Mar’ah (hal.136)].

Ibnu Hajar Al-Haitamy-rahimahullah- memandang bahwa di antara dosa besar adalah mengejek para hamba Allah Ta’ala, tidak menghargai mereka, dan merendahkan mereka. Beliau berkata setelah itu, “Semua yang disebutkan tadi, prinsip dan dasarnya adalah keburukan akhlak dan rusaknya hati”. [Lihat Az-Zawajir (1/141-142)]

Seorang yang memperbanyak canda dan tawa, hatinya akan rusak dan mati dengan perlahan-lahan disebabkan ia tak terasa telah melakukan dosa dan kekufuran yang menodai hati. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

لَا تُكْثِرُوْا الضَّحْكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحْكِ تُمِيْتُ الْقَلْبِ

“Janganlah kalian memperbanyak tertawa karena memperbanyak tertawa bisa mematikan hati”. [HR. At-Tirmidzy (2305), Ibnu Majah (4193). Lihat Shohih Al-Adab Al-Mufrod (253)]

  • Berbicara Tentang Wanita

Berbicara tentang wanita merupakan salah satu bahan humoran bagi sebagian orang yang tipis imannya, dan rendah rasa malunya. Sampai kadang diantara mereka menjadikannya sebagai sebuah propesi dan adat kebiasaan yang sulit untuk ditinggalkan. Ironisnya lagi, jika kebiasaan ini menjangkit di kalangan agamawan. Karena pembicaraan tentang wanita dominannya mengarah kepada perkara tabu.

Seorang tabi’in, Al-Ahnaf bin Qois -rahimahullah- berkata, “Jauhkanlah majelis kita dari obrolan seputar wanita dan makanan karena aku benci seseorang yang suka membicarakan (masalah) farji dan perutnya”.[Lihat Siyar A’lam An-Nubala’ (4/94)]

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشَرُّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ منزلة يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلُ يُفْضِيْ إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِيْ إِلَيْهِ ثُمَّ يُنْشِرُ سَرَّهَا

“Di antara manusia yang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mendatangi istrinya, dan istrinyapun datang kepadanya, lalu ia menyebarkan rahasianya”. [HR.Muslim dalam Shohih-nya (1437), dan Abu Dawud dalam Sunannya (4870)]

Imam An-Nawawiy–rahimahullah- berkata, “Dalam hadits ini terdapat (faedah) diharamkannya seseorang menyebarkan sesuatu yang terjadi antara dia dengan istrinya berupa perkara jimak, serta menggambarkan hal itu secara rinci dan sesuatu yang terjadi pada wanita di dalamnya berupa ucapan, perbuatan, dan sejenisnya”. [Lihat Syarah Shohih Muslim (10/8)]

Seyogyanya seorang muslim -apalagi pelajar ilmu syar’i- selalu berusaha membersihkan lidahnya ketika ia berbicara di depan orang. Karena seorang yang mengotori mulutnya dengan kisah-kisah dan cerita tentang wanita yang bisa membangkitkan gejolak syahwat, akan merusak citra dirinya sendiri dan memberikan dampak buruk kepada teman duduknya .

Abdullah bin Umar -radhiyallahu anhuma- berkata,

أَحَقُّ مَا طُهِّرَ الْعَبْدُ لِسَانَهُ

“Sesuatu yang paling pantas disucikan oleh seorang hamba adalah lisannya” . [HR.Ahmad dalam Az-Zuhd (26), Abu Dawud dalam Az-Zuhd (322),Ibnu Abi Ashim dalam Az-Zuhd (26),dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (1/307) dengan sanad yang shohih]

Para ulama kita melarang seseorang untuk berbicara tentang wanita, karena itu merupakan jalan tergelincirnya seseorang dan bisa mengantarkan untuk membicarakan perkara yang haram, berupa hal-hal yang berkaitan dengannya; entah itu dengan menggambarkan keelokan tubuh dan perangai seorang wanita, ataukah menyebarkan rahasia yang terjadi antara seorang suami dengan istrinya. Sedang ini merupakan seburuk-buruknya perbuatan yang diberikan ancaman keras bagi pelakunya sebagaimana dalam hadits di atas.

  • Dusta Demi Canda

Ciri seorang mukmin adalah jujur dalam berbicara sebagaimana pribadi Nabi kita. Abu Hurairah berkata, “Ya Rasulullah, engkau bercanda dengan kami?” Beliau bersabda,

إِنِّيْ لّا أَقُوْلُ إِلَّا حَقًا

“Sesungguhnya aku tak akan mengucapkan sesuatu kecuali itu benar” . At-Tirmidzy dalam As-Sunan (1990). Hadits ini di-shohih-kan Al-Albany dalam Ash-Shohihah (1726)]

Satu bentuk kebiasaan buruk jika seseorang berusaha untuk membuat orang lain senang dan tertawa, namun ia mengucapkan sesuatu yang dusta sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian pelawak, dan pemain sandiwara atau orang yang cari-cari muka.

Jauhilah dusta dalam bercanda sebab ini akan meluputkan kalian dari suatu fadhilah dan balasan yang agung di sisi Allah pada hari kemudian. Nabi Shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِيْ ربض الْجَنَّةِ لَمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًا وَبِبَيْتٍ فِيْ وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِيْ أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

“Aku akan memberikan jaminan sebuah rumah di pinggir surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar, dan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta sekalipun ia bercanda, serta rumah di bagian atas surga bagi orang yang akhlaknya bagus”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (4800). Lihat Ash-Shohihah (494)]

Inilah sebagian canda dan humor yang dilarang dalam Islam sengaja kami sampaikan di hadapan saudara-saudara sekalian agar kita bisa mengenal dan menjauhinya. Sebab berapa banyak orang masuk dalam neraka hanya karena salah dalam mengucapkan sesuatu.

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 25 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu Abbas. Alamat : Pesantren Tanwirus Sunnah, Jl. Bonto Te’ne No. 58, Kel. Borong Loe, Kec. Bonto Marannu, Gowa-Sulsel. HP : 08124173512 (a/n Ust. Abu Fa’izah). Pimpinan Redaksi/Penanggung Jawab : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Dewan Redaksi : Santri Ma’had Tanwirus Sunnah – Gowa. Editor/Pengasuh : Ust. Abu Fa’izah Abdul Qadir Al Atsary, Lc. Layout : Abu Muhammad Mulyadi. Untuk berlangganan/pemesanan hubungi : Ilham Al-Atsary (085255974201). (infaq Rp. 200,-/exp)

http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/akhlak-adab/jangan-lupakan-adab-ketika-bercanda/

Dicopy dari : http://almakassari.com/?p=165